bg lower
Sebuah komunike Vatikan mengatakan, Bapa Suci sangat menyesalkan mendengar pentahbisan ilegal yang berlangsung di Chengde, Propinsi Hebei, pada 20 November dan mengatakan bahwa tindakan itu merupakan suatu “pelanggaran berat terhadap disiplin Gereja Katolik.”

Takhta Suci akan mengevaluasi insiden tersebut, termasuk keabsahan pentahbisan dan posisi kanonik para uskup yang terlibat, kata komunike 25 November tersebut.

Komunike itu juga mengatakan, Pastor Joseph Guo Jincai menempatkan diri dalam situasi beresiko berat.

Berikut ini teks lengkap komunike tersebut:

KOMUNIKE KANTOR PERS TAKHTA SUCI

Tahbisan Uskup di Chengde

(Propinsi Hebei, Cina Daratan)

Sehubungan dengan pentahbisan episkopal Pastor Joseph Guo Jincai, yang berlangsung Sabtu lalu, 20 November, informasi telah dikumpulkan tentang apa yang terjadi dan kini pernyataan jelas berikut ini baru bisa dikeluarkan.

1. Bapa Suci menerima kabar itu dengan penyesalan mendalam, karena penahbisan uskup tersebut terjadi tanpa mandat apostolik dan, karena itu, merupakan luka yang menyakitkan bagi persekutuan gereja dan pelanggaran berat terhadap disiplin Katolik (bdk. Surat Paus Benediktus XVI untuk Gereja di Cina, 2007, no. 9).

2. Diketahui bahwa, dalam beberapa hari terakhir, beberapa uskup menjadi sasaran tekanan dan kebebasan bergerak mereka dibatasi, dengan tujuan untuk memaksa mereka agar mau berpartisipasi dan menganugerahkan pentahbisan uskup. Kendala tersebut, yang dilakukan oleh Pemerintah Cina dan pejabat keamanan, merupakan pelanggaran berat terhadap kebebasan beragama dan hati nurani. Takhta Suci akan melakukan evaluasi rinci tentang apa yang telah terjadi, termasuk pertimbangan aspek validitas dan posisi kanonik para uskup yang terlibat.

3. Bagaimanapun, ini berdampak menyakitkan. Dalam kasus pertama, untuk Pastor Joseph Guo Jincai yang, karena ini pentahbisan itu, telah menempatkan dirinya dalam kondisi kanonik paling serius terhadap Gereja di Cina dan Gereja universal, memposisikan dirinya juga untuk dikenai sanksi berat, khususnya, berdasarkan kanon 1382 dari Kitab Hukum Kanonik.

4. Pentahbisan ini bukan hanya tidak memberikan kontribusi bagi kebaikan umat Katolik di Chengde, tetapi juga menempatkan umat Katolik dalam kondisi yang sangat pelik dan sulit, juga dari sudut pandang kanonik, dan menghina umat Katolik, karena Pemerintah Cina ingin memaksakan kepada umat Katolik seorang pemimpin Gereja lokal yang tidak memiliki persekutuan penuh dengan Bapa Suci dan dengan para uskup lain di seluruh dunia.

5. Beberapa kali, selama tahun ini, Takhta Suci telah mengkomunikasikan secara jelas kepada pihak yang berwenang di Cina tentang penolakan Takhta Suci terhadap pentahbisan episkopal Pastor Joseph Guo Jincai. Meskipun demikian, pihak berwenang tersebut memutuskan untuk melakukannya secara sepihak, sehingga, melalui beberapa pentahbisan episkopal belakangan ini, suasana saling menghormati yang dengan susah payah telah tercipta antara Pemerintah Cina dengan Takhta Suci dan Gereja Katolik dilecehkan. Tindakan ini merendahkan para uskup dan membuat kehidupan komunitas Gereja tidak lagi sesuai dengan ajaran Katolik; tindakan ini melawan Bapa Suci, Gereja di Cina, dan Gereja universal, dan selanjutnya membuat kesulitan pastoral yang ada sekarang ini menjadi semakin rumit.

6. Paus Benediktus XVI, dalam surat tersebut di atas pada tahun 2007, telah mengungkapkan kesediaan Takhta Suci untuk berdialog secara terhormat dan konstruktif dengan Pemerintah Republik Rakyat Cina, dengan tujuan untuk mengatasi kesulitan dan menormalisasikan hubungan kedua belah pihak (no. 4 ). Menandaskan kembali kesediaan tersebut, Takhta Suci mencatat dengan penuh penyesalan bahwa Pemerintah Cina mengizinkan pimpinan Asosiasi Patriotik Katolik Cina, yang dalam hal ini Liu Bainian, untuk mengambil sikap yang secara serius merusak Gereja Katolik dan menghambat dialog tersebut.

7. Umat Katolik di seluruh dunia mengikuti dengan penuh perhatian perjalanan penuh masalah dari Gereja di Cina: solidaritas spiritual yang menyatukan mereka dengan saudara-saudari mereka di Cina, yang menghadap segala pencobaan, telah menjadi doa yang kuat kepada Tuhan sejarah (Lord of history), semoga merangkul mereka, meningkatkan kekuatan dan pengharapan mereka, dan menghibur mereka dalam setiap momen pencobaan.

Oleh Reporter ucanews.com, Hong Kong, Cina
sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Sat Dec 03 2016 09:48 AM
Our Visitors :892252
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT