bg lower
Sebuah Percikan Permenungan
MENGENDALIKAN DIRI

Pada awal tahun baru ini, saya ingin sekali menggoreng dendeng rusa dan untuk itu saya pergi ke kios "Rusa Merah" di kota Rusa - yang adalah julukan lain kota Merauke. Di tengah jalan ada orang marah-marah kepada penyeberang jalan, sebab menghalangi orang penting - very important person - yang hendak menghadiri rapat. Secara gegabah dan tidak terkendali, dirinya mengata-ngatai penyeberang jalan yang hampir saja ketabrak. Dalam benakku terlintas bahwa jika tidak dilerai - karena emosinya yang sudah memuncak - akan memukul penyeberang jalan, yang diduga bersalah itu. Pepatah Latin, "Post verba verbera" yang artinya sesudah dikata-katai kemudian digebugi, akan terjadi di persimpangan jalan. Namun, untunglah karena yang dicemaskan tidak terjadi. Lalu, saya mengintip dari jendela mobil, ternyata orang yang tidak bisa mengendalikan diri itu adalah orang yang belum lama diwisuda sebagai M.Pd (Master Pendidikan). Ini adalah gelar yang biasa disandang oleh para kepala sekolah di Merauke. Mungkin kita pernah mendengar gelar, "Grand Master" atau "Master of Art" atau "Master of Science." Mereka itu dinyatakan lulus, sebab diri mereka sudah bisa menguasai dirinya sendiri (to master). Kemudian saya bermenung dalam hati, "Apakah dalam suasana kacau-balau, chaos, suasana hati yang tidak menentu, saya masih bisa hidup dengan tenang dan bisa mengendalian diri?" Ini adalah sekelumit kisah tentang rasa emosi, kesal, marah-marah, bahkan terjadi gesekan fisik, hanya karena tidak mampu mengendalikan diri.

Mari kita menegok ke belakang tentang kisah pengendalian diri, seseorang yang bernama Gengis Khan (1167 - 1227). Konon sementara perang, sang Kaisar ini amat kehausan. Ia memiliki gagak yang amat setia yang senantiasa bertengger di pundaknya. Di tengah-tengah kehausannya, ia menemukan tetesan air di dalam gua. Tetapi setiap kali mau meminumnya, burung gagak itu terus menyambar tempurung dan airnya pun tumpahlah. Kejadian itu terjadi berulang-ulang. Akhirnya yang keempat kali, sewaktu burung gagak akan menyambar air dalam tempurung itu, Gengis Khan langsung menghunus pedang tepat di tembolok burung gagak dan matilah seketika itu juga.

Sang kaisar penasaran dan memanjatlah ia ke sumber air itu. Dia kaget, ternyata dalam sumber itu, airnya terdapat bangkai ular berbisa yang sudah meracuni genangan air itu. Penyesalan selalu datang terlambat. Sang Kaisar itu tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri, tetapi dikendalikan oleh emosi dan perasaan, yang mengakibatkan gegabah dalam mengambil keputusan. Kata-kata indah, "Orang dianggap pahlawan bukan karena mampu menguasai kota, melainkan karena orang itu bisa menguasai dirinya sendiri," mendapatkan tempatnya bagi kita yang sulit untuk mengendalikan diri.

Dalam suatu bimbingan rohani - tradisi para seminaris dan para biarawan-biarawati - saya pernah dinasihati supaya mampu mengambil jarak dengan problem yang sedang dihadapi. Pembimbing saya membagikan pengalamannya demikian. Katanya, "Saya pernah jengkel terhadap seseorang. Dalam kejengkelan itu, saya menulis surat yang berisi maki-makian terhadap orang tersebut. Lalu surat saya masukkan amplop dan diberi alamat lengkap dan ditempel perangko serta saya taruh di laci. Surat itu "menginap" dalam laci selama dua hari. Setelah itu, surat saya baca kembali. Sungguh di luar dugaan, saya menjadi malu membacanya, sebab isinya maki-makian dan "penghuni kebun binatang". Memang dalam situasi yang kalut, orang sulit untuk bisa mengendalian diri. Jika hati sedang "gelap" yang terjadi ialah bahwa suasana di sekitar itu sepertinya tidak mendukung. Kalau diri kita sedang menghadapi masalah, baiklah kita berani menyendiri dan berkata, "Maaf! Biarkanlah saya sendiri dulu!" Dengan berhadapan dengan dirinya sendiri - tanpa intervensi dari luar - suasana hati pelan-pelan akan mereda.

Pengalaman kesendirian itulah yang membuat orang berlatih untuk mngendalikan diri. Kesendirian juga merupakan moment yang tepat untuk mengendapkan peristiwa-kejadian yang dialami yakni pengalaman suka-duka. Sejarah yang mendukung kisah ini ada dalam diri Raden Mas Said. Dia adalah putra sulung Tumenggung di bawah kerajaan Majapahit. Dalam kedalaman hatinya, ia terpanggil untuk memberantas kejahatan dan kebatilan dalam masyarakat. Untuk memenuhi "bisikan Tuhan" ia rela melepaskan gelar keningratan dan bertapa di tepi sungai (kali), yang nantinya akan bergelar Kali Jaga (Panjaga Kali). Dalam kesendiriannya, ia berhadapan dengan "ego"-nya sendiri (Bdk. Cerita wayang lakon Dewa Ruci). Berkat ketabahannya untuk berlatih mengendalikan diri, Raden Mas Said mendapatkan "Nur" (cahaya, yang diartikan juga kekuatan) dari yang ilahi. Kemudian dia diangkat menjadi wali yang terkenal dalam deretan nama sembilan wali (wali sanga) dengan gelar Sunan Kali Jaga. Dalam memutuskan sesuatu, Sunan Kali Jaga terkenal tenang penuh welas asih (belas kasih).

Tiba-tiba muncul pertanyaan, "Bagaimana saya sebagai orang yang hidup dalam dunia nyata yang senantiasa berusaha mencukupi kebutuhan hidup ini. Lantas, bagaimana saya bisa hidup dengan rasa tenang dan damai?" Jawaban imaginer pun demikian, "Kebutuhan kita di dunia ini tidak terbatas. Kalau kita hanya mengejar kebutuhan yang tidak terbatas itu, kita akan dikuasai oleh hawa nafsu itu sendiri." Seorang guru agama Buddha berkata, "Bukankah tali dawai yang terikat kencang terus dalam mandolin sekali-kali perlu dikendorkan. Demikian pula, pikiran kita yang penuh dengan angan-angan, cita-cita dan harapan itu pun perlu dikendorkan, relax, supaya menjadi segar kembali, refresh." Kita perlu belajar dengan kata-kata Plato (438 - 348 SM), "Hidup yang tidak direnungkan ialah hidup yang tidak bermakna." Merenung, hening, mengambil waktu jeda adalah cara yang tepat untuk mengendalikan diri bagi orang-orang sibuk. Tawaran untuk hidup sehat di kota-kota besar - mau tidak mau - mengedepankan kehidupan yang menjanjikan ketenangan batin seperti; yoga, meditasi, rei ki, tai-chi. Saya yakin bahwa orang-orang yang banyak mengolah batinnnya juga mampu mengendalikan diri.

Sementara merenungkan tentang makna pengendalian diri, di luar Biara MSC terdengar suara petasan, "Dor! Dor!" serta kembang api yang memekakkan telinga (rupanya petasan dan kembang api sisa Tahun Baru). Kemudian tanpa terkendali, saya pun berteriak-teriak, sambil marah-marah supaya tidak bermain petasan karena amat mengganggu. Kini kusadari bahwa ternyata sulit mengendalikan diri. Kita pun - tanpa kecuali berguman, "Memang, baru tahu ya?"

Merauke - Kota Rusa, 4 Januari 2011

Markus Marlon MSC
sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Thu Dec 08 2016 01:39 AM
Our Visitors :893529
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT