bg lower
T A N T A N G A N

Dalam dunia pewayangan, setelah para Kurawa tumpas tapis, daya hidup para Pandawa pun kelihatan mulai surut pula. Para Pandawa memang jaya dan berkuasa selama beberapa tahun di Hastinapura. Cerita Mahabaratha itu berakhir dengan perjalanan dari negeri Hastina ke Gunung Mahameru. Dalam perjalanan itu, mereka pun tewas satu per satu, bukan karena perang melainkan karena mereka kelelahan. Orang yang bertahan hidup hanyalah Yudhistira dan anjingnya. Selama dalam pertempuran, para Pandawa itu gagah perkasa membela kebenaran dan melawan kebatilan. Namun setelah perang usai, mereka hidup dalam ketenangan - tanpa tantangan - dimanja oleh kemenangan dan hidupnya menjadi loyo dan akhirnya mati. Ternyata Pandawa tampil dengan gagah dan kuat, justru karena pergolakan melawan Kurawa itu. Kematangan pribadi ikut ditentukan oleh seberapa keberhasilan dirinya dalam mengolah tantangan yang dihadapinya dalam hidup. Pepatah Latin yang berbunyi, "Ab obice saevior ibit" yang berarti gara-gara rintangan dia malah makin dahsyat menyerang - barangkali - bisa diterapkan untuk memaknai arti tantangan dalam hidup kita.

Buku berjudul, " Dewa Ruci - Pelayaran pertama menaklukkan tujuh samodra" tulisan Cornelis Kowaas, ada sebuah kutipan kecil yang berbunyi, "Laut yang tenang, tidak akan menghasilkan pelaut yang trampil." Saya berpikir bahwa ungkapan kecil ini memang sarat makna. Banyak orang yang berhasil dengan gemilang, karena dihadapkan pada pelbagai tantangan. Dengan kata lain, tantangan dan cobaan membuat orang menjadi dewasa. Thomas Alva Edison (1847 - 1931) sudah sejak bocah telah berhadapan dengan masalah kehidupan. Setiap hari dengan tekun, ia bekerja di laboratorium-nya. Sering - bahkan teramat sering - ia gagal dalam mengadakan eksperimen-eksperimennya. Tetapi dalam kegagalannya, dia berkata, "Dengan gagal seribu kali, saya dapat menemukan jalan keluar itu seribu kali. Saya belajar dari kesalahan," kutipan dari buku yang berjudul, "Thomas Alva Edison" terbitan Elex Media Komputindo. Lalu ujarnya lagi, "Untuk sukses, manusia membutuhkan 1% bakat dan 99% adalah ketekunan dan kerja keras." Atau kita mengintip film Thailand yang berjudul, "Beautifull Boxer" yang disutradarai oleh Ekachai Uekrongtham. Sejak kecil Nong Toom punya sifat feminim, meskipun dirinya dikirim ke vihara oleh orang tuanya, sifat feminitasnya makin berkembang. Akhirnya, karena keluarganya mengalami kesulitan ekonomi, "memaksa" dirinya mencari uang yakni dengan menjadi petinju. Berkat bakat dan tempaan pelatihnya yang keras, Toom berhasil menjadi petinju yang tangguh. Toom selalu bertinju dengan riasan wajah - karena jiwanya adalah wanita. Setelah memenangkan belasan pertarungan dengan jurus-jurus Muaythai klasik, Toom dapat bertanding di stadion Lumpini, Bangkok. Perjuangan Toom ini begitu luar biasa dan penuh dengan "pertumpahan darah" di ring tinju.

Tahun 90-an, saya pernah bertugas di pedalaman Merauke, persisnya di Mindiptana. Dari sana, saya bisa ke Tanah Merah - dalam waktu beberapa jam - dan di sana pula, kita bisa melihat tempat yang bersejarah bagi bangsa Indonesia yakni Boven Digoel. Tidak terbayangkan sebelumnya, bagaimana hidup di tempat yang sunyi, berjalan kaki seharian - karena belum ada kendaraan, gelap - karena belum ada PLN. Tetapi ternyata medan yang masih "perawan" itu membuat saya semakin "matang dan dewasa" dalam menghadapi hidup ini. Tantangan yang saya hadapi bukan hanya medan yang menantang, tetapi juga bagaimana berhadapan dengan mentalitas dan budaya setempat. Dan kini kusadari bahwa semua pengalaman penuh tantangan itu, menjadi pelajaran yang amat berharga. Hikmah dari pangalaman pahit, sulit, penderitaan yang pernah dialami dan sudah diatasi bisa menjadi berkat. Penggalan pengalaman ini - barangkali - juga dialami pula oleh para pedagang, pengusaha, guru, dokter, pegawai kantoran dan profesi-profesi lainnya.

Seorang pedagang akan menjadi PEdagang yang mahir, jika terlatih menghadapi para pembeli yang rewel. Kerewelan pelanggan itu pada gilirannya "memaksa" mereka untuk membenahi diri agar semakin matang dalam karya. Seorang guru akan menghadapi murid-muridnya yang bandel dengan kesabaran dan bijaksana. Mereka tidak akan cepat memvonis, apalagi menghukum. Murid adalah "alter ego" (aku yang lain) yang perlu mendapat perhatian dari sang pangajar. Inilah yang disebut sebagai guru yang profesional, karena telah menghadapi pelbagai tantangan dan mampu mengatasinya.

Bung Karno (1901 - 1970) - singa podium - dalam orasinya, pernah berkata, "Vivere pericoloso," yang artinya hidup itu penuh dengan tantangan dan bahaya. Lama sebelum itu, Mussolini (1883 - 1945) pernah berujar, "Vivire pericolosa mente" yang berarti hidup dalam cita-cita yang membahayakan. Inti dari ungkapan itu adalah bahwa hidup di dunia ini selama hayat masih dikandung badan harus "diusik" oleh "pergolakan kehidupan." Sang Proklamator kemudian menguraikan makna tantangan dengan menyebut kota dalam pewayangan yaitu Uttarakuru. Tentang kota itu ia berujar, "Janganlah kamu menginginkan jadi kota seperti itu. Kenapa? Kota itu tidak kelewat gelap dan juga tidak kelewat terang. Negeri itu adalah negeri yang aman, tentram dan tenang. Tidak ada perbedaan pendapat antara satu dengan yang lain. Tidak ada cek-cok. Ibarat mengalir tenang, tiada riak dan tiada gelombang. Apakah kamu senang dengan negeri seperti itu? Jangan sekali-kali kamu suka. Apa artinya aman dan tenang tanpa pergolakan dan beda pendapat? Apakah semua kepala cuma sanggup mengangguk dan tidak sekalipun menggeleng? Kita tidak suka dengan negeri yang serba aman. Kita mesti siap bergolak. Setiap saat mesti ada naik dan turun. Ada up dan down. Bersiaplah jika ada pergolakan dan pergulatan." Pidato yang menggetarkan hati dan bisa-bisa membuat bulu kuduk kita berdiri.

Merenungkan makna "tantangan" memang membutuhkan nyali yang besar. Tantangan itu sudah ada tanpa kita mencarinya. Dan tantangan itu harus kita hadapi, seperti yang dikatakan oleh Seneca (4 s.M - 65 M), seorang filsuf, dramawan Roma, "Vivere Militari" yang artinya adalah bahwa hidup itu penuh perjuangan.

Merauke, 17 Januari 2011

Markus Marlon MSC
sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Tue Dec 06 2016 12:03 AM
Our Visitors :892901
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT