bg lower
Mengapa Merayakan Natal?


JIKA kita jujur menjawab pertanyaan tersebut, mungkin kita kaget menerima jawaban yang ada. Mengapa? Karena jawaban yang muncul kadang tidak ada kaitannya dengan Natal. Itu sebabnya, saya setuju dengan pernyataan, “Christmas means a different thing for a different person” (Natal mengandung makna yang berbeda bagi orang per orang).

Untuk orang tertentu, hari Natal merupakan saat paling menguntungkan untuk transaksi dagang (business). Untuk orang lain, barangkali hari Natal merupakan saat yang baik untuk mencari nama dan menjalin relasi.

Perayaan Natal yang seringkali kurang bermakna atau sesat makna tersebut membuat orang tertentu mengusulkan agar hari Natal tidak perlu dirayakan. Alasannya jelas, kegiatan rohani seperti itu merupakan pemborosan yang tidak mencerminkan kerohanian.

Saya setuju meniadakan perayaan Natal jika hal itu dilakukan tanpa penghayatan yang benar. Di pihak lain, saya juga mendukung perayaan Natal tetap dilaksanakan, berapa pun harga yang harus dibayar asalkan dengan pemahaman yang benar.

Pemahaman yang benar dappat kita peroleh jika sungguh-sungguh membaca dan merenungkan pernyataan Alkitab. Secara umum, kita mengetahui bahwa berita Natal adalah berita kelahiran Yesus Kristus ke dalam dunia (Luk. 2: 11).

Sesungguhnya, pernyataan ini tidak sesederhana membacanya. Mengapa? Karena Alkitab menjelaskan bahwa Dia adalah Sang Firman yang menjadi daging (Yoh. 1: 14). Dalam permulaan Injil Yohanes, Sang Firman sendiri disebut adalah Allah juga” (Yoh. 1: 1).

Jadi dalam peristiwa Natal, Firman yang adalah Allah sendiri, menjadi daging? Siapakah yang dapat menjelaskan berita tersebut sehingga dapat dimengerti sepenuhnya? Saya yakin, tidak ada. Itulah sebabnya, kata “rahasia” atau “mistery” merupakan kata yang tepat menggambarkan peristiwa Natal.

Kata “menjadi” (Inggris, became; Yunani, egeneto) dalam kalimat “Firman menjadi daging” pun merupakan kesulitan bagi para ahli. Apakah itu berarti bahwa Firman yang adalah Allah berubah menjadi daging atau manusia, dengan demikian Dia bukan lagi Allah? Atau, Firman tetap dalam keAllahanNya dan pada saat yang sama Dia juga manusia? Jika demikian halnya, sejauh mana kita mengerti kata “menjadi” tersebut?

Bicara soal pemahaman bahwa Yesus bukanlah Allah, tapi hanya manusia biasa, tentu saja kita setuju dengan banyak ahli yang dengan tegas menolak pemahaman seperti itu karena memang tidak mencerminkan pengajaran Alkitab.

Alkitab dengan tegas mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah (Inggris, God; Yunani, Theos). Hal ini telah didemonstrasikan dengan baik oleh theolog Murray J. Harris, Ph.D, dalam bukunya Jesus as God. The New Testament Use of Theos in Reference to Jesus.

Karena itu, barangsiapa menolak pernyataan penting itu akan mengalami kesulitan menjelaskan pernyataan Alkitab tentang keAllahan Yesus. Jadi, ketika kita merayakan Natal, maka penting kita renungkan rahasia yang terjadi pada hari Natal itu. Firman yang adalah Allah, menjadi daging!

Rudolf Bultmaan dan Raymond Brown mengatakan bahwa pernyataan Alkitab tersebut telah menjadi batu sandungan bagi banyak orang. Namun bagi orang percaya, berita ini menimbulkan kekaguman dan syukur yang tidak cukup dilukiskan dengan kata-kata dan nyanyian. Jika syukur dan kekaguman seperti ini yang mau diungkapkan dalam perayaan Natal, maka hal itu merupakan sesuatu tindakan yang terpuji.

Selanjutnya, Alkitab menegaskan bahwa peristiwa yang ajaib, yaitu Firman menjadi daging tersebut adalah untuk keselamatan manusia berdosa: “... supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3: 16).

Penegasan Alkitab tersebut meruntuhkan kecongkakan manusia yang merasa dirinya benar, mampu dari dirinya sendiri, seolah-olah tidak memerlukan pertolongan untuk menyelesaikan masalah dirinya yang paling mendasar. Dalam kenyataannya, Alkitab menegaskan bahwa manusia sangat memerlukan pertolongan dari luar dirinya.

Singkatnya, manusia memerlukan Juruselamat. Penegasan Alkitab tersebut juga meruntuhkan segala kecongkakan dan kefanatikan agama yang ada waktu itu, termasuk Judaisme (agama Yahudi), juga agama-agama yang muncul kemudian, yang merasa bahwa agamanya menjamin keselamatan bagi pemeluknya.

Penegasan di atas dan banyak penegasan sejenis di dalam Alkitab menyatakan bahwa manusia tidak cukup hanya memiliki agama. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus pernah menyatakan kebenaran ini kepada penganut agama yang sangat taat di zamanNya: “... sebab jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia, kamu akan mati di dalam dosamu” (Yoh. 8: 24).

Singkatnya, agama tidak menyelamatkan. Mengapa? Jawabnya sederhana: karena semua penganut dan pendiri agama berada dalam lingkaran dan kuasa dosa. “Karena semua manusia telah berbuat dosa” (Ro. 3: 23), dan “Upah dosa adalah maut!” (Ro. 6: 23). Dan mengenai korban persembahan, Alkitab mengajarkan bahwa korban binatang tidak cukup menyelesaikan masalah dosa. Hal itulah yang ditegaskan oleh penulis kitab Ibrani: “Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa” (Ibrani 10: 4).

Jika demikian halnya, siapapun dia, termasuk agama Kristen, bahkan rohaniwan seperti majelis dan pendeta akan binasa tanpa Yesus. Sebaliknya, siapa pun dia, betapa pun besar dosa yang telah dilakukannya, jika orang itu sungguh-sungguh percaya kepada Yesus serta sungguh-sungguh bertobat, maka dia akan beroleh keselamatan yang kekal.

Hal itulah yang diwartakan oleh nabi Yesaya sekitar 700 tahun sebelum Yesus lahir ke dalam dunia (Yes. 1: 18; 53: 4-6). Penghayatan akan keselamatan yang kekal dan yang tidak ternilai harganya tersebut, serta kelepasan dari segala macam perbudakan dosa mengakibatkan syukur dan kekaguman yang juga tidak terlukiskan dengan kata-kata.

Tentu saja, untuk menyatakan ibadah syukur dan penyembahan seperti itu tidak harus dengan perayaan Natal dengan biaya besar. Bukankah tindakan Yesus di hari Natal itu adalah tindakan kasih dan pengorbanan yang patut kita teladani? Dan lagi, bukankah Tuhan Yesus sendiri yang berulang tahun?

Karena itu, kita seharusnya memberi hadiah kepadaNya melalui hal-hal yang menyukakan hatiNya. Sehubungan dengan itu, Dia pernah mengatakan: “...sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25: 40).

Mari kita peringati dan rayakan Natal dengan bersyukur kepadaNya dan kagum atas karya kasihNya yang ajaib.


www.mangapulsagala.com


sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Tue Dec 06 2016 12:04 AM
Our Visitors :892918
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT