bg lower
M U T A S I

Film drama yang berjudul, "The Ballad of Lucy Whipple" dikisahkan sebagai berikut. California Morning Whipple adalah seorang gadis muda yang penuh semangat. Dia sangat menyukai New England, tempat dia dibesarkan. Oleh sebab itu, dia tidak menyetujui keinginan sang ibu untuk pindah dari New England ke California. Pada saat itu memang Amerika sedang dilanda "demam emas". Ketika sampai di California, dia benar-benar merindukan New England, namun justru ibu dan adik-adiknya sangat bahagia dengan rumah dan kehidupan baru mereka. Karena tidak mau dihubung-hubungkan dengan California lagi, maka dia mengganti namanya menjadi Lucy. Namun pada saat namanya telah berganti dengan Lucy, dirinya justru mulai merasakan California sebagai "rumahnya."

Mutasi memang - pada awalnya - sungguh menyakitkan, apalagi kalau seseorang sudah memiliki kenangan indah yang mengena di hati. Dalam percikan permenungan kali ini, saya hendak mencoba "menyelami" sedikit pengalaman kemelekatan, yang menjadikan orang sulit untuk ber-"transemus", seperti bayi Yesus, Yosef dan Bunda Maria yang harus mengungsi (Bdk. Lagu Transemus). Secara spontan, yang muncul dalam permenungan ini adalah bahwa ternyata kemelekatan pada relasi dan harta serta posisi atau jabatan tidak mudah bagi seseorang untuk menerima mutasi yang diberikan oleh pimpinan.

Dalam karya pastoral, setiap ada mutasi dalam Tarekat menggunakan nama yang sungguh indah yakni tugas perutusan. Para anggota diharapkan siap diutus dan taat ke mana harus berkarya, sesuai dengan kaul yang pernah mereka ikrarkan. Tetapi ternyata mutasi itu menjadi pengalaman yang pahit, ketika seseorang sudah mapan ataupun tidak berkenan dimutasikan di tempat yang baru.

Kemelekatan pada suatu relasi di tempat tugas tertentu dapat menjadikan seseorang sulit untuk berpindah tempat. Karya sastra, "The Odyssey" karangan Homerus (± abad 8 SM) memperlihatkan bagaimana Odysseus, Raja Ithaka, sempat "mabuk kepayang" dengan Calypso, peri cantik yang tinggal di pulau indah dan amat terasing. Nama pulau itu adalah Ogygia. Calypso jatuh cinta dengannya dan dijanjikan hidup abadi, jika mau tinggal bersama. Suatu tawaran yang amat manggiurkan. Apa yang menjadi cita-citanya yakni hidup berbahagia bersama istri dan putranya yang semata wayang itu telah kandas, karena dirinya telah membangun "monumen cinta" dengan peri cantik. Bisa ditebak, ia sudah lupa untuk kembali ke Ithaka dan hidup bersama lagi dengan Penelope, istrinya dan Telemakhus, sang putra mahkota. Setelah kenal si cantik - Calypso, Odysseus tidak mau mutasi. Sudah layak dan sepantasnya.

Seseorang yang sudah duduk di tempat yang empuk - kemungkinan besar - akan lupa berdiri. Demikian pula dengan seseorang yang menduduki tempat yang dikatakan sebagai tempat yang "basah." Gila kuasa ternyata sudah meresapi manusia dari zaman ke zaman. Dalam buku yang berjudul, "Sejarah Gelap Para Paus - kejahatan, pembunuhan dan korupsi di Vatikan," tulisan Brenda Ralph Lewis, dikisahkan bahwa Niccolo Machiavelli menulis praktek kekuasaan keluarga Cesare Borgia (1475 - 1507) sebagai model ideal pemegang tongkat estafet kekuasaan. Cesare Borgia adalah seorang militer Italia dan penguasa yang amat licik dari zaman Renaissance Italia. Hal yang membuat kita terkesima yakni jalan terbaik agar terus bertahan dalam karier politiknya adalah "ditakuti lebih aman daripada dicintai." Karena kenikmatan atas kekuasaan tersebut, maka seorang Raja bisa menghalalkan segala cara. Intrik dan konspirasi untuk menjatuhkan lawan politiknya bisa terjadi sangat kejam dan tak terduga. Tidak heranlah kalau orang yang sudah merasakan nikmatnya kekuasaan itu sulit untuk melepaskannya.

Keserakahan akan harta - cepat atau lambat - akan menimbulkan tragedi. Seseorang berani mengorbankan segalanya bahkan jiwanya demi harta. Kolonialisme terjadi karena ada motivasi untuk pewartaan (gospel), kemasyuran, kemuliaan (glory) dan harta, emas (gold). Dalam mitologi Yunani kita kenal Raja Midas yang adalah raja Phrygia. Sang Raja memohon kepada Dewa Dionisius, agar apa yang ia pegang berubah menjadi emas. Doa itu pun dikabulkan. Tetapi ketika pada gilirannya akan makan dan minum, dia mengalami kesulitan, karena benda itu pun menjadi emas. Sang Raja membujuk Dewa Dionisius agar menarik kembali hadiah itu. Untuk melepaskan "tenaga" yang tidak diingingkan itu, dia harus mandi di sungai Paktolus yang air dari sungai itu - yang sampai hari ini - mengandung emas. Ternyata ketagihan harta yang belebihan bisa membawa petaka. Dari sini pula saya berani mengutip kata-kata yang ditulis oleh St. Paulus, "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." (2 Tim 6: 10)

Mental hidup yang mapan, established memang sungguh tidak mengembangkan. Orang bisa terikat dengan relasi-relasi yang yang tidak sehat dan mengikat. Seseorang - karena terlalu lama bertugas di suatu tempat serta memiliki posisi yang "nikmat" - ia tidak rela melepaskan kursi yang empuk itu atau "lupa" berdiri untuk berpindah, mutasi ke kursi yang lain. Dan orang yang mendapatkan tugas perutusan di "tempat yang basah", serba kecukupan sulit bagi dirinya untuk digeser.

Bulan depan MSC provinsi Indonesia memiliki "hajat besar" yaitu Kapitel di Ambon. Tidak lama sesudah itu - tentu - diadakan rapat DPL (Dewan Provinsi Lengkap) dan - tentu - akan akan ada mutasi akbar. Kita berharap bahwa Kapitel itu berjalan lancar dan yang lebih penting lagi, semoga rekomendasi serta keputusan bisa dilaksanakan secara konsekuen, termasuk di dalamnya mutasi-mutasi dari para anggotanya. Semoga!!!!

Merauke, 22 Januari 2011
(Markus Marlon MSC)
sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Sat Dec 03 2016 09:50 AM
Our Visitors :892287
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT