bg lower
C U E K
(Sebuah Percikan Permenungan)

Membaca novel berjudul, "Jane Eyre" karangan Charlotte Bronte, saya tertarik dengan tokoh yang bernama Mr. Rochester, pemilik Thornfield, sebuah rumah mewah. Pada halaman-halaman pertama dari novel tersebut, dilukiskan bahwa Mr. Rochester adalah seorang pribadi yang misterius, ketus, acuh tak acuh, sinis dan dingin serta cuek. Terinspirasi dari ke-cuek-an Rochester itulah, saya mencoba untuk merenungkan makna cuek dalam kehidupan manusia.

Pertama kali mendengar seorang gadis yang berkata, "Memang enak dicuekin" membuatku tersentak. Gurauan itu hendak mengatakan kepada kita bahwa "tidak dianggap" adalah pengalaman yang menyakitkan. Sebagai pribadi, setiap orang berharap dirinya dipadang "ada" atau "eksis" dan diakui keberadaannya - kalau perlu - malah dianggap penting oleh orang lain. Ternyata sikap cuek, acuh tak acuh, apatis sudah menggejala sejak dahulu kala. Indiferentisme atau sikap acuh tak acuh, yang terjadi di Perancis abad akhir abad XVIII dan awal abad IXX, berawal dari sikap cuek dengan kehidupan terhadap sesama. Semua dianggap sama (Indifferen). Di zaman sekarang, kita patut mensyukuri kemajuan tehnologi, tetapi sekaligus prihatin sebab kemajuan tenologi membuat sikap cuek tehadap kepentingan sesama. Peralatan komunikasi yang serba canggih - di lain pihak - mengurangi nilai relasi antarmanusia

Martin Buber (1878 - 1965), seorang filsuf Yahudi, penulis buku "Ich und Du" yang telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris, "I and Thou", meramalkan bahwa relasi antarmanusia kian memudar. Pudarnya relasi ini menumbuhkan sikap yang mengagungkan kepandaian, ketrampilan dan ketangkasan manusia, sehingga orang yang tidak masuk dalam kategori ini akan disingkirkan atau tersingkir. Manusia dihargai atau dianggap ada, berdasarkan apa yang dimilikinya (Bdk. Buku tulisan Eric Fromm yang telah diterjemahkan oleh Sastraprateja SJ, dengan judul, Menjadi dan Memiliki ). Inilah yang dalam bahasa Buber sebagai relasi "I-It", dan bukan "I-Thou". Eknath Easwaran, penulis buku yang produktif, dalam bukunya yang berjudul "Take Your Time," menawarkan suatu kehidupan yang penuh makna, yakni mengedepankan relasi persahabatan yang hangat. Easwaran melihat adanya kerja di kantor yang semakin efisien, mengurangi adanya pertemuan antara nasabah dan pegawai kantor (kalau di Bank). Dulu, menulis surat adalah kegiatan yang ideal untuk menjalin relasi dan "Sahabat Pena" pernah menjadi popular di setiap majalah. Dengan menulis surat, seseorang bisa membayangkan sedang berkomunikasi dengan sang sahabat. Tetapi sekarang, dengan adanya e-mail, FB, twitter, seseorang bisa langsung komunikasi dan pada waktu yang bersamaan pesan (message) itu bisa langsung di-delete, sehingga relasi kurang mendalam. Kartu Ultah, Kartu Lebaran, Kartu Natal dan Paskah sudah tidak ada gemanya lagi. Tradisi yang sudah berlangsung lama, kini tinggal kenangan, karena sudah tergantikan dengan mengirim SMS. "Ucapan Selamat" melalui SMS tidak menyentuh hati dan kurang "mengigit". Kalau dalam dunia perbankan, dengan adanya ATM, seorang nasabah hanya berkomunikasi dengan mesin dan uang keluar secara otomatis. Dulu, nasabah bisa berkomunikasi dengan karyawan di Bank. Sisi manusiawi ini kini mulai luntur.

Sikap cuek bisa muncul karena terhimpit oleh situasi dan kondisi. Orang bisa tidak peka lagi melihat orang lain, sebab dirinya juga sedang bergumul dengan situasi yang memprihatinkan. Dalam buku yang berjudul, "Anne Frank" - yang sudah difilmkan dan sangat menyentuh hati - dikisahkan bagaimana orang yang sedang "menunggu giliran untuk mati" di kamp konsentrasi daerah Buchenwald berebut makanan ketika anak buah Adolf Hitler (1889 - 1945), pemimpin yang tanpa saingan yang dalam julukan Jerman disebut "Fuehrer", pemimpin partai Nazi Jerman itu, membagi jatah makanan. Mereka berebut makanan bagaikan orang-orang biadab yang tidak memedulikan orang lain (Bdk. Perebutan kupon jatah makanan di setiap daerah di seluruh Indonesia atau perebutan tiket di GBK untuk menyaksikan Timnas). Di kamp konsentrasi tersebut - cuaca yang sangat dingin - pakaian yang dikenakan oleh orang yang dalam sakratul maut, menjadi incaran teman sebelahnya. Kalau salah seorang penghuni kamp konsentrasi itu meninggal dunia, bukan menangis - karena sedih - melainkan berebut untuk mendapatkan baju atau kaos kakinya. Itulah sifat dasar manusia yakni bertahan untuk hidup dan rasa aman dengan tidak memedulikan orang lain. Dari sanalah istilah "Homo homini lupus" yang berarti manusia adalah serigala bagi yang lain, - barangkali bisa - mendapatkan penerapannya. Istilah ini menjadi terkenal dengan terbitnya buku "Leviatan" yang ditulis oleh Thomas Hobbes (1588 - 1679) seorang filsuf Inggris. Pemandangan penderitaan telah menjadi biasa, sehinga orang lain tidak lagi mengalami sedih karena sendiri juga mengalami penderitaan yang sama.

Sikap acuh itu, rupanya tidak serta-merta dialami, melainkan berlangsung dari hal-hal yang sepele, kemudian memuncak. Dalam praktek kedokteran - semoga sekarang ini tidak dilakukan lagi karena gerakan "pro life" - awalnya seorang pelaku abortus akan berpikir puluhan kali. Tetapi karena iming-iming harta yang cepat didapat, seorang dokter bisa saja melupakan "sumpah hipokrates" (hipocratic oath). "Bukankah perang Troya - yang menjadi bacaan wajib sastrawan dunia - juga diawali dengan hal-hal yang sepele?" Penculikan Helena oleh Paris yang dibantu okeh Dewi Aprodite, sang Dewi Asmara menjadi pemicu perang Troya yang begitu dahsyat. Cuek terhadap hal-hal yang sepele mengandung bahaya besar.

Sikap cuek juga kita rasakan - barangkali - di keuarga, di kantor maupun di biara-biara. Zaman dulu - tentunya sebelum adanya HP - dering tilpon adalah sebuah "undangan" untuk diangkat dan yang menerima tilpon berlari-lari mencari orang yang dimaksud dari sang penelpon. Bahkan di biara-biara - barangkali - dulu ada piket penjaga tilpon. Tapi sekarang, deringan tilpon sering dicuekin, karena masing-masing orang berpikir, "Kenapa tidak langsung saja ke HP, japri - jalur pribadi, gitu loh"

Saat ini, saya sedang membaca novel Jane Eyre di taman biara yang asri, dan sedang seru-serunya, tiba-tiba di ruang tamu biara terdengar deringan tilpon berkali-kali. Pasti ini berita penting. Tapi dalam hati saya berkata, "Kenapa tidak tilpon langsung di HP-nya saja. Khan sekarang jaman sudah maju dan setiap biarawan-wati, imam sudah memilikinya, bahkan canggih-canggih?". Rupanya tokoh Rochester dalam novel yang cuek itu telah mempengaruhi hidupku. Mea culpa, Gusti nyuwun pangapura!!!

Merauke, 7 Januari 2011
Markus Marlon MSC
sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Sat Dec 03 2016 09:49 AM
Our Visitors :892278
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT