bg lower
“Waspadalah supaya kamu jangan disesatkan.”

(Why 14;14-20; Luk 21:5-11)



“Ketika beberapa orang berbicara tentang
Bait Allah dan mengagumi bangunan itu yang dihiasi dengan batu yang indah-indah
dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus: "Apa yang
kamu lihat di situ -- akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan
dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan." Dan
murid-murid bertanya kepada Yesus, katanya: "Guru, bilamanakah itu akan terjadi?
Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?" Jawab-Nya: "Waspadalah,
supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai
nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu
mengikuti mereka. Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan
pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi
dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera." Ia
berkata kepada mereka: "Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan
melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai
tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal
yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit.” (Luk 21:5-11), demikian kutipan Warta Gembira hari
ini.

Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· Waspada kiranya dapat difahami sebagai ‘awas pada’.
Awas berarti tajam dan tepat dalam melihat, sehingga dapat melangkah ke depan
dengan aman dan damai serta tak mudah tersesat. Di akhir tahun liturgy ini kita
juga diajak untuk mawas diri apakah kita semakin waspada, sehingga tak mudah
disesatkan oleh aneka macam bentuk godaan, rayuan, tipu daya atau jebakan. Saya
percaya jika kita setia dalam menghayati iman kita di dalam hidup sehari-hari,
maka kita akan menjadi orang yang waspada terhadap aneka macam perisitiwa atau
apa yang akan terjadi. Orang yang waspada juga dapat ‘melihat apa yang akan
terjadi’, sehingga ia dapat bersiap-siaga.serta membekali diri dengan baik
dalam menghadapi apa yang akan terjadi. Aneka macam bentuk penyesatan masih
terus terjadi yang dilakukan oleh orang jahat dan tak bermoral, dalam bentuk
tawaran harta benda/uang, pangkat/kedudukan/jabatan dan kehormatan duniawi.
Pada umumnya harta benda atau uang yang menjadi alat penyesatan, mengingat dan
memperhatikan cukup banyak orang yang masih bersikap mental materialistis.
Salah satu cara menghadapi godaan akan harta benda atau uang adalah hidup dan
bertindak sederhana, karena dengan demikian juga akan waspada terhadap
tawaran-tawaran yang menarik dan mempesona. Sejauh saya dengar melalui aneka
informasi konon para calon anggota DPR/DPRD atau kepala daerah sungguh
tersesat, karena agar berhasil menjadi anggota DPR/DPRD atau kepala daerah
harus memberi ‘uang pelicin’ yang cukup besar. Maka tidak mengherankan ketika
mereka menjabat kemudian bersikap mental materialistis. Dampak berikutnya
mereka tidak waspada terhadap aneka peristiwa yang terjadi.

· “Aku melihat:
sesungguhnya, ada suatu awan putih, dan di atas awan itu duduk seorang seperti
Anak Manusia dengan sebuah mahkota emas di atas kepala-Nya dan sebilah sabit
tajam di tangan-Nya. Maka keluarlah seorang malaikat lain dari Bait Suci; dan
ia berseru dengan suara nyaring kepada Dia yang duduk di atas awan itu:
"Ayunkanlah sabit-Mu itu dan tuailah, karena sudah tiba saatnya untuk
menuai; sebab tuaian di bumi sudah masak.” (Why 14:14-15). Sebagai
orang beriman kita semua diharapkan dapat melihat sebagaimana digambarkan dalam
kutipan di atas ini. Marilah kita lihat apa yang indah, mulia, luhur dan baik
dalam diri sesama manusia, binatang maupun tumbuhan atau lingkungan hidup kita.
Marilah kita lihat karya Roh dalam diri sesama manusia, antara lain seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera,
kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.”
(Gal 5:22-23). Kami percaya dalam diri kita masing-masing atau sesama kita
dapat ditemukan buah-buah Roh tersebut. Selanjutnya secara khusus jika kita
dapat melihat buah-buah Roh dalam diri kitam marilah kita ‘ayunkan’, artinya
kita hayati dalam hidup sehari-hari. Kita berantas dan musnahkan aneka macam
bentuk penyesatan. Buah-buah Roh tersebut semakin diayunkan atau diberikan
kepada orang lain tidak akan pernah berkurang sedikitpun, bahkan akan semakin
bertambah, semakin mendalam dan handal. Kita semua dipanggil untuk setia dan
taat pada malaikat-malaikat yang mendampingi perjalanan hidup, tugas pengutusan
kita. Suara dan pendampingannya antara lain berupa tegoran ketika kita akan
tersesat atau menyeleweng, dukungan dan peneguhan ketika kita akan berbuat
baik. Semoga kita semua senantiasa tergerak untuk berbuat baik kepada
saudara-saudari kita.



“Katakanlah di antara bangsa-bangsa:
"TUHAN itu Raja! Sungguh tegak dunia, tidak goyang. Ia akan mengadili
bangsa-bangsa dalam kebenaran." Biarlah langit bersukacita dan bumi
bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut serta isinya, biarlah beria-ria padang dan
segala yang di atasnya, maka segala pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan
TUHAN, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya “ (Mzm 96:10-13)

Jakarta, 23 November 2010
(i_sumarya@yahoo.com)
sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Tue Feb 28 2017 05:53 AM
Our Visitors :910299
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT