bg lower
Presiden Tegaskan Komitmen Pemerintah Jaga Kemajemukan


Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan komitmen pemerintah untuk terus menjaga kemajemukan dan sendi-sendi kebebasan beragama sehingga tercipta toleransi dan saling menghormarti dalam kehidupan sehari-hari.

Penegasan tersebut disampaikan Presiden Yudhoyono dalam sambutannya pada perayaan Natal Nasional Tahun 2010 di Jakarta Convention Center, Senin malam.

Menurut Presiden, toleransi dan kebebasan beragama bukan sekedar kontekstual mengikuti konstitusi dan juga peraturan perundang-undangan, namun juga harus ditumbuhkan dalam masyarakat sehingga nilai-nilai toleransi keberagaman dan saling menghormati satu sama lain meningkat dalam kehidupan sehari-hari.

Pemerintah, lanjut Presiden, terus berkomitmen menjaga nilai-nilai tersebut sehingga tidak ada lagi warga negara yang disakiti oleh pihak lain karena perbedaan agama, paham politik, maupun identitas sosial lainnya.

"Kemajemukan bangsa kita harus menjadi kekuatan. Kemajemukan harus disikapi dengan penuh rasa syukur yang diimbangi perbuatan-perbuatan positif. Keragaman yang kita miliki harus diterima sebagai anugerah," ujarnya.

Untuk itu, menurut Presiden, hakikat prinsip hidup berdampingan dalam kebebasan harus diiringi dengan prinsip hidup beragama dalam bingkai toleransi.

"Pemerintah terus mendorong kehidupan antara umat beragama yang harmonis," tegas Kepala Negara.

Presiden meyakini dengan tumbuhnya kesadaran hidup dalam alam majemuk dan toleransi beragama, Indonesia telah memiliki modal sosial untuk tumbuh sebagai bangsa yang besar dan bermartabat.

Karena itu, Presiden mengajak seluruh umat beragama untuk menomorsatukan kepentingan bangsa, menghormati konstitusi dan tatanan negara yang demokratis, serta memperkuat rasa persaudaraan sesama anak bangsa.

"Mari kita letakkan kepentingan bangsa kita di atas kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan. Kita harus menghormati konstitusi dan tatanan negara yang demokratis melalui perilaku berbangsa dan beragama," katanya.

Sementara itu, Ketua Persatuan Gereja Indonesia (PGI) Pendeta Andreas A Yewangoe dalam narasi Natal berjudul "Terang Yang Sesungguhnya Sedang Datang ke Dalam Dunia" memaparkan bahwa kemuliaan baru mempunyai makna apabila telah teruji dalam prahara penderitaan. Diluar itu, kemuliaan adalah kemuliaan semu.

"Kalau kita sungguh-sungguh hendak memperoleh kemuliaan, maka kira harus mengujinya dengan penderitaan yang melanda bangsa kita. Kemuliaan sejati justru terlihat ketika kita menenggelamkan diri dalam prahara yang dialami sesama kita. Tidak ada kemuliaan yang diperoleh secara instan. Tidak ada kemuliaan sejati diperoleh dengan berlaku seolah-olah dan berpura-pura," tutur Andreas.

Karena itu, ia mengingatkan agar setiap manusia tidak boleh berpretensi seakan-akan sumber terang sementara sebenarnya terasing dari berbagai persoalan konkret yang dihadapi bangsa.

(D013/S026)
sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Sat Dec 03 2016 09:47 AM
Our Visitors :892246
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT