bg lower
Pesan Kasih dalam Inkulturasi Nada Bahasa Ibu


KOMPAS.com - Nunga jumpang muse ari pesta i, Hatutubu ni Tuhanta Jesus i, Tuat di ibana sian surgo i, Mebat tu hita on, Hasangapon di Debata, Dame dame na di jolma, Las ni roha ni Debata...

Ini penggalan lagu ”Glory Glory Hallelujah” versi bahasa Toba (Sumatera Utara). Dan, agaknya bakal menjadi tren lagu rohani bernuansa kedaerahan tahun depan.

”Wah, lagu rohani daerah? Saya jadi teringat lagu ’Malam Kudus’ versi bahasa Jawa,” kata Totok Pujianto saat ditemui di Jakarta, Rabu (22/12). Pencipta lagu rohani yang tinggal di Jakarta itu pun spontan melantunkan sebuah lagu dengan suara lirih.

Ia senang jika lagu-lagu rohani ini berinkulturasi di tengah hiruk pikuk musik kebarat-baratan. Meski secara kualitas, menurut dia, album rohani berbahasa daerah perlu dibenahi di sana-sini. Maklum, materi dan kemasan produk lokal ini jauh tertinggal dari album rohani produksi asing.

Beberapa toko kaset di mal-mal menjual album rohani daerah seperti Batak (Sumatera Utara), Manado (Sulawesi Utara), dan Jawa Tengah. Albumnya pun bervariasi, dari lagu Barat dengan iringan musik tradisional sampai benar-benar syair dengan teks daerah.

Terdesak globalisasi

Namun, arus globalisasi seakan semakin menenggelamkan album-album rohani lokal ini. Butuh usaha ekstra bagi mereka yang rindu mendengarkan lagu rohani dalam bahasa ibunya dan mencarinya di toko musik.

Kaset-kaset ini sudah tidak lagi dipajang di rak-rak yang mudah terlihat pengunjung. Petugas di dua toko musik ternama di Jakarta harus mencarinya sampai membongkar tumpukan kaset tua di rak paling bawah untuk membantu Kompas mencari album itu. Jauh berbeda dengan album rohani asing yang terpampang di rak bagian atas dan mudah dilihat pengunjung.

Belum lagi penampilannya kurang menarik dengan penyanyi yang kurang terkenal. Kalaupun dipajang, benar-benar yang menjual, seperti penyanyi terkenal seperti almarhum Broery Marantika, Victor Hutabarat, Anastasia Astuti, Mus Mulyadi, dan Mus Mujiono.

Totok menilai, hal ini bukan berarti kemampuan rekamannya rendah. ”Ini lebih karena menekan biaya produksi sehingga dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi, album itu jadi. Toh, segmen pasar album rohani juga terbatas,” lanjutnya.

Tren 2011

Walau terbatas, minat pendengar lagu rohani berbahasa daerah masih tumbuh. Kerinduan terhadap sentuhan rohani dalam bahasa ibu, terutama untuk mendidik anak-anak mereka yang lahir dan besar di Jakarta, berperan besar dalam hal ini.

Yonatan Suryadiraja dari bagian pemasaran Radio Pelita Kasih di Jakarta mengatakan, 10 tahun terakhir mereka tak memutar lagu-lagu rohani daerah. Namun, sejak November 2010, pendengar mulai meminta lagu rohani berbahasa daerah diputar lagi.

Radio Pelita Kasih pun memutar secara acak pagi dan malam hari. Respons pendengar sungguh positif dan manajemen pun berencana membuat program khusus mulai tahun 2011.

Koleksi album rohani daerah Pelita Kasih hampir lengkap dari beberapa daerah, seperti bahasa Toba, Ambon, Jawa Tengah, dan Manado. Dan, pesan kasih pun tersampaikan.... Haleluya! (Ayu Sulistiyowati)


sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Sat Dec 03 2016 09:51 AM
Our Visitors :892311
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT