bg lower
“Sweeping” Tempat Ibadah Adalah Aksi Teroris


Aksi sweeping terhadap tempat-tempat ibadah, seperti yang terjadi terhadap tempat ibadah jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Betania, Gereja Kemah Injili Indonesia, Jemaat Filadelphia, Jemaat Maranatha, Gereja Pentakosta, dan penyegelan Gereja Katolik di Rancaekek, Bandung, Jawa Barat, adalah tindakan teroris. Sebab, ideologi teroris adalah kekerasan dengan cara apa pun, karena teroris tidak menginginkan adanya kelompok yang berbeda.

Penegasan itu dilontarkan Secretary General of Indonesian Committee on Religion and Peace, Theophilus Bela di Jakarta, Jumat (17/12), menanggapi aksi sweeping terhadap tempat ibadah di Bandung, yang dilakukan oleh kelompok masyarakat, yang menamakan diri Front Pembela Islam, Forum Umat Islam (FUI), dan Gerakan Reformasi Islam (Garis). Dikatakan, secara ideologi, teroris dan orang yang menyerang gereja dan tempat ibadah lainnya, sama, yakni tidak mau menerima perbedaan.

“Teroris selalu melihat orang lain di luar kelompok mereka adalah kafir lalu mereka berusaha menghanguskannya dengan cara apa pun, termasuk melanggar hukum dan hak asasi manusia (HAM). Apalagi, semua agama besar di dunia sama sekali tidak membenarkan tindakan teroris, meskipun sering memanipulasi ayat-ayat kitab suci agama untuk tujuan teroris,” ujar Theo yang baru pulang dari Amerika Serikat (AS) mengikuti US-Indonesia Inter-religious Cooperation Forum.

Theophilus mengaku kaget dengan peristiwa di Bandung tersebut, karena seharusnya tidak ada lagi kasus seperti itu. Sebelum bertolak ke AS, Theo juga menerima informasi dari dua pendeta gereja Pentakosta di Cibitung, Bekasi bahwa mereka diancam sekelompok orang.

Tetapi, berkat kerja sama dengan pihak kepolisian, jemaat dua gereja itu tetap aman melaksanakan ibadahnya. Dia memuji kesigapan polisi setempat, sehingga tidak terjadi hal buruk. ”Seharusnya, di seluruh Nusantara demikian, agar tidak ada lagi gangguan orang beribadah,” ucapnya.

Ketua Umum Sentral Organisasi Karyawan Swadiri (SOKSI) Ade Komarudin, dalam pernyataan akhir tahunnya di Jakarta, Kamis menegaskan, penggunaan kekerasan di sebagian kalangan masyarakat dalam pencapaian tujuan semakin meningkat, seperti terorisme, penyerangan kelompok lain yang berbeda, pertikaian etnis dan premanisme. Hal ini tentu menimbulkan disharmoni sosial. ”Ketidaknyamanan dan ketidakamanan tentu meningkat pula sehingga dapat menimbulkan frustasi sosial,” katanya.

Perlindungan minoritas, pluralisme, dan kerukunan beragama oleh negara sangat penting. Akhir-akhir ini, banyak kasus yang mengoyak rasa kebersamaan, seperti kasus HKBP di Ciketing, penyerangan kelompok Ahmadiyah dan lain-lain, termasuk di Rancaekek di Bandung.

”Kondisi ini sangat memprihatinkan. Sebab, dalam UUD 1945 Pasal 29 Ayat (2) ditegaskan, ’Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu’. Pasal 28E Ayat (1), ’setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya’. Jadi, tidak boleh ada yang bertindak melanggar konstitusi itu,” tegas Sekretaris Fraksi Partai Golkar DPR itu.
sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Sat Dec 10 2016 12:23 PM
Our Visitors :894262
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT