bg lower
SECERCAH HARAPAN

Kata "Januari" berasal dari "Janus" yang diambil dari salah satu dewa bangsa Romawi kuno. Dewa itu digambarkan sebagai manusia dengan tiga wajah, yang satu menghadap ke belakang, yang lain menghadap ke depan dan yang terakhir menghadap ke tempat dia berdiri (Bdk. Dunia Selalu berputar, tgl 24 Des 2010). Sebagian orang menjalani hari pertama pada bulan Januari, ada yang dengan perasaan cemas dan khawatir. Lalu kita bertanya, "Mengapa?" Karena mereka tetap menoleh ke masa silam. Perhatian mereka pada masa silam sedemikian besar, sehingga pandangan mereka ke masa depan menjadi buram. Dale Carnegie dalam bukunya yang berjudul, "Petunjuk Hidup Tentram dan Damai" mengajak supaya kita tidak "Menangisi susu yang telah tertumpah." Tidak ada gunanya kita terus-menerus meratapi masa yang telah berlalu. Yang sudah berlalu biarkan berlalu dan sekarang gerbang koridor masa depan telah terbuka. Di sana pula secercah harapan akan kita gapai. Ingatkah kita dengan syair indah, "Let It Be", ciptaan The Beatles?" (Biarkanlah Itu Terjadi). Orang yang memiliki visi untuk masa depan, tidak pernah akan mau dipengaruhi oleh situasi luar dan dalam bertindak pun senantiasa dalam kendalinya. Inilah yang dipegang teguh oleh para tentara bawahan Julius Caesar (101 - 44 SM). Setiap kali mengadakan peperangan, ia berharap akan menang. Hal ini pula yang membuat setelah pasukan tiba di medan perang, sampan-sampan untuk menyeberang dihancurkan dan dibakar, supaya tidak ada kesempatan untuk mundur. Dalam pikiran mereka hanyalah maju pantang mundur dan menang. Maka tak mengherankan jika motto mereka adalah, "Veni, Vidi,Vici". Menurut beberapa dokumen, ungkapan yang lengkap adalah, In triumpho Caesar praetulit hunc titulum: "Veni, vidi, vici" yang artinya, dalam arak-arakan kemenangannya, Caesar menunjukkan papan pengumuman ini: "Aku telah datang, aku telah melihatnya dan aku telah memenanginya." Kalau menurut bahasa St. Paulus, hidup ini bagaikan pertandingan merebut suatu mahkota. Tulisnya, "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman" (2 Tim 4: 7). Dalam melakukan pertandingan, dibutuhkan fokus. Fokus itu ada di depan kita, jika kita - dalam bertanding - selalu melihat ke belakang, niscaya mahkota kemenangan tidak pernah akan kita dapatkan.

Legenda tentang Harapan, baik jika kita menengok ke mitologi Yunani, yang dikisahkan dalam "Kotak Pandora. Dikisahkan bahwa ada sebuah kotak yang berisi pelbagai malapetaka dalam bentuk makhluk kecil bersayap warna coklat dan kotak tersebut dihiasi dengan ornamen yang amat memesona, yang - tentunya - membuat setiap orang ingin membukanya. Pandora, seorang gadis belia - ingin sekali mengetahui isi kotak tersebut. Keinginannya begitu kuat - padahal sudah diperingatkan supaya tidak membukanya. Tatkala kotak itu dibuka, keluarlah malapetaka yakni segala macam penyakit dan tabiat buruk serta kejahatan yang mengobrak-abrik umat manusia. Penyesalan selalu datang terlambat. Pandora amat sedih. Sorak gembira serta-merta berubah menjadi tangis yang tragis. Keluhan terdengar dari segala penjuru karena rasa sakit dan ketakutan akan kematian. Namun, bagaimana pun juga, dalam hati para Dewa muncul belas kasihan kepada umat manusia. (Bdk. Promotheus, dewa yang mencintai umat manusia dengan memberi api). Para Dewa "mengutus" makhluk yang baik di antara yang jahat yakni Harapan, yang ditugaskan oleh para Dewa untuk menyembuhkan luka-luka tersebut. Harapan, kemudian terbang melalui jendela dan menjalankan tugas yang sama terhadap para korban lain untuk mengembalikan semangat mereka. Harapan - meskipun kecil dan sedikit - amat berpengaruh besar bagi kelangsungan hidup umat manusia.

Mari kita memandang Harapan dalam perjuangan umat manusia. Dalam novel berjudul "Dokter Zhivago" yang ditulis oleh Boris Pasternak menyentuh hati kita dengan secercah harapan. Musim dingin yang bersalju, "memaksa" Zhivago dan Tonia sang istri serta Sasha, putrinya, untuk tetap tinggal di rumah yang sepi dan terasing. Pandangan sang dokter yang juga penulis puisi itu menerawang jauh melampaui salju nan indah. Di ambang batas musim dingin ke musim semi, sinar matahari menerpa bunga-bunga tulip dan bunga matahari. Di sanalah Zhivago berdiri di jendela kaca dan tersenyum penuh harapan. 4 bulan terkurung dalam rumah dan kini tiba saatnya untuk bertandang dalam karya. Kesukaan terdalam dirinya adalah menolong orang yang sakit. Itulah sebabnya ketika menjalankan tugasnya, ia berkarya secara total dan tentunya menemukan kebahagiaan. Manusia - meskipun hidup menderita dan divonis oleh dokter, umurnya pendek - tetapi jika ada harapan, manusia akan mendapatkan semangat, dan hidup menjadi bahagia.

Dokter Zhivago memang seorang yang romantis, apa yang dilihatnya dijadikan bahan permenungan. Ketika melihat perawat cantik bernama Lara, ia menulis puisi, tatkala menatap indahnya tumbuh-tumbuhan yang sedang bersemi diambilnya pena untuk diabadikan dalam bentuk buku. Tetapi yang pantas diacungi jempol yaitu bahwa Zhivago menempatkan semua cita-citanya dalam suatu harapan untuk menjadi orang bebas untuk menolong orang sakit. Itulah yang membuatnya bertahan, meskipun dalam melangkah bagaikan berjalan dalam onak dan duri.

Di penghujung tahun ini, setelah merenungkan percikan harapan-harapan tahun 2011, terbersit dalam ingatanku, sebuah lagu yang dilantunkan oleh pasangan Muchsin Alatas dan Titik Sandora, "Percaya, Harapan dan Cinta". Pikirku, "Apakah ini implikasi tentang makna harapan?" Aku sendiri juga tidak tahu, marilah kita tanyakan pada rumput yang bergoyang!!!

Marauke 31 Desember 2010
(Markus Marlon MSC)
sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Sat Dec 10 2016 12:23 PM
Our Visitors :894265
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT