bg lower
Natal Momen Universal


Perayaan Natal sekarang bukan lagi hanya perayaan agama Kristen, tetapi Natal sekarang sudah menjadi momen universal. Di negara-negara non-Kristen, seperti Jepang, pun turut merayakan Natal.

Perayaan Natal juga bisa membawa berkah bagi orang lain, khususnya pedagang, mulai dari asongan, kaki lima, mal, retil modern, tempat rekreasi, hotel dan tempat bisnis lainnya. Jadi,

Majelis Ulama Indonesia (MUI) semestinya bisa memahami munculnya simbol-simbol Natal di pusat-pusat perbelanjaan, hotel, atau tempat rekreasi.

Hal itu dikemukakan oleh sejumlah tokoh Kristen maupun Islam yang dihubungi SP di tempat terpisah. Dalam sebuah media nasional, MUI menilai, simbol-simbol Natal ditampilkan berlebihan.

MUI juga menyoroti pengelola pusat perbelanjaan dan hotel atau tempat rekreasi yang memaksa karyawannya yang beragama Islam mengenakan simbol-simbol Natal.

Karena itu, Ketua MUI, KH Muhyiddin Junaidi, dalam siaran pers MUI mengatakan, demi menjaga perasaan umat Islam dan umat lainnya, serta kerukunan antarumat beragama, maka MUI mengingatkan kepada para pengelola mal, hotel, tempat rekreasi, dan tempat-tempat bisnis lainnya agar arif dan peka menjaga perasaan umat beragama dan tidak memaksa karyawannya yang beragama Islam untuk memakai simbol-simbol dan ritual Natal.

Rektor Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta, Jan Aritonang mengerti kegelisahan MUI atas berlebihannya perayaan Natal di pusat perbelajaan dan hotel. Namun, dia meminta MUI juga melihat bahwa perayaan Natal sekarang bukan lagi hanya perayaan agama Kristen, tetapi Natal sekarang sudah menjadi moment universal. Negara-negara non-Kristen, seperti Jepang pun merayakan Natal.

“Para pengelola hotel dan pusat perbelanjaan pun jangan memanipulasi masyarakat dengan cara-cara merayakan Natal yang semakin komersial, dengan pemasangan atribut mewah dan mencolok diikuti dengan belanja besar-besar,” katanya di Jakarta, Jumat (24/12).

Dia mengingatkan, Natal seharusnya dirayakan secara sederhana, sama seperti perayaan pertama kali Yesus Lahir Ke Dunia di kandang domba yang sederhana.

Ketua Umum Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili, Nus Remas mengatakan, maraknya ornamen atau atribut natal di pusat perbelanjaan dan hotel merupakan salah satu wujud ekspresi perayaan natal. Hal itu sesuai dengan makna natal adalah celebration (pesta) kesukaan besar seluruh umat manusia atas kedatangan Juru Selamat Dunia.

Menurutnya, maraknya simbol-simbol Natal di pusat perbelanjaan dan hotel masih dalam batas wajar. Semua itu merupakan strategi bisnis dan hiburan pengelola pusat perbelanjaan dan hotel.

“Para manajemen mal melakukan tersebut hanya untuk kepentingan bisnis dan hiburan serta bentuk kepedulian turut merayakan Natal. Bahkan, Hotel Emirates Palace, yang berada di negara Muslim Uni Emirat Arab, turut memperingati Natal dengan memasang pohon natal termewah bernilai US$ 11 juta atau setara Rp 99 miliar, ” ujarnya.

Namun, ditambahkannya, umat Kristiani jangan terjebak dengan simbol-simbol agama karena itu hanya akan merusak hakekat natal. Perayaan Natal seharusnya dirayakan dengan rasa syukur dalam bentuk kasih kepada sesama.


sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Sat Dec 03 2016 09:46 AM
Our Visitors :892228
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT