bg lower
Seperti Apakah Natal di China?


BEIJING, KOMPAS.com - "Di dalam Katederal Maria Dikandung Tanpa Noda, Beijing, lebih dari 1.000 umat paroki berkumpul untuk mengadakan misa. Pastor yang bertugas seorang imam muda China, serta ada sebuah kelompok paduan suara yang melantunkan mazmur dan lagu-lagu Natal. Imam mengajak umat untuk "mendoakan Bapa Suci, Paus Benediktus XVI, dan para uskup China"."

Begitulah Jaime FlorCruz, koresponden majalah Time Beijing memulai kolom mingguannya, Jaime"s China, yang khusus membahas masalah mayarakat dan politik China, pada akhir pekan lalu. Jaime FlorCruz telah tinggal dan bekerja di China sejak 1971. Ia belajar sejarah China di Peking University (1977-1981) dan menjadi koresponden dan kepala biro Time Beijing (1982-2000).

Suasana di atas, tulis FlorCruz, merupakan perubahan mencolok dibanding pada zaman Mao Zedong di tahun 1960-an dan 70-an, ketika agama masih dilarang di China karena dianggap sebagai "candu bagi rakyat" dan Natal merupakan sesuatu yang tabu. Pada awal 1980-an, tahun-tahun setelah Mao meninggal, pemerintah mulai melonggarkan kontrolnya atas agama.

"Sejak saat itu, beberapa teman Katolik dan saya bersepeda ke Katedral Dikandung Tanpa Noda untuk mengikuti misa tengah malam. Di gerbang, petugas gereja yang waspada menyaring setiap orang yang ingin masuk. Di dalam gereja berusia 400 tahun yang remang-remang itu, seorang imam tua berkata bahwa misa akan diselenggarakan dalam bahasa Latin. Paduan suara menyanyikan lagu "Malam Kudus" dalam bahasa China. saya menyalami beberapa orang di sekitar saya dengan sapaan "Shengdan kuaile!" (Merry Christmas!). Mereka membalas saya dengan tatapan kosong, gugup karena berdoa secara terbuka (di gereja)," tulis FlorCruz sebagaimana dikutip CNN.

Sekarang, lanjut FlorCruz, perayaan Natal menjadi salah satu masa liburan komersial terbesar di kota-kota di China. Di pusat perbelanjaan SciTech di Beijing pusat misalnya, sebuah pohon Natal setinggi empat meter, yang didekor multi-berwarna serta sebuah sebuah bintang emas dipuncaknya, berdiri di tempat parkir. Pusat-pusat pertokoan dan restoran dihiasi dengan dekorasi dan pernak-pernik Natal. Para penjaga toko yang mengenakan topi Santa Klaus menyambut pelanggan dengan membungkuk. Pajangan berupa seorang pria gemuk yang tegap dan berjanggut putih, Shengdan Laoren (atau Santa Klaus), menghiasi jendela-jendela toko.

Para konsumen muda dan kreatif China telah mengubah Natal menjadi bisnis yang menguntungkan. Belanja Natal telah sedemikian ingar-bingar di Chengdu, yaitu di Taobao dan Alibaba, dua perusahaan perdagangan online terbesar China, yang meraup 90 juta yuan (13,5 juta dollar AS) hanya dalam tiga hari menjelang Natal, lapor Daily Sichuan.

Namun apa makna Natal bagi orang China? FlorCruz mendapat jawaban dari sejumlah warga. "Di Barat, ini merupakan festival, bukan?" kata Zhao Jing, seorang pramuniaga muda, yang berasal dari pedesaan di Provinsi Shanxi.

"Saya tahu Natal merupakan hari ulang tahun kelahiran Yesus Kristus, seperti yang tertulis dalam Kitab Suci," kata seorang perempuan paruh baya di Beijing, yang bermarga Chen, saat ia berbelanja hadiah Tahun Baru untuk suaminya.

Dan apakah Shengdan Laoren (Santa Klaus) itu? "Dia yang membawa hadiah-hadiah, seperti permen dan mainan," kata seorang bocah laki-laki yang sedang berbebelanja bersama ibunya.

Tidak mereka melihat arti "Kristus" dalam Natal? Joseph Min, seorang pemuda berusia 19 tahun rajin ke gereja, mengatakan ia memahami makna Natal. "Orang tua saya Katolik," katanya. "Tapi saya tidak menyadari arti agama dan Natal sampai saya mendengar para misionaris berbicara tentang hal itu ketika saya menghadiri sebuah kamp musim panas di SMP." Mahasiswa itu mengatakan, sebagian besar teman kuliahnya tidak tahu apa-apa tentang agama. "Kebanyakan pemuda larut dalam gelombang perubahan sosial," katanya. "Tetapi banyak yang ingin tahu, mencari semacam agama atau filsafat sebagai pegangan hidup."

Menurut Jaime FlorCruz, secara tradisional agama telah menjadi aspek penting kehidupan China. Meski ada upaya Partai Komunis untuk melenyapkan organisasi agama sejak partai itu mengambil alih kekuasaan tahun 1949, masih banyak orang yang berpegang pada keyakinan mereka. Pemerintah China sekarang ini mengakui lima agama utama, yaitu Buddha, Islam, Taoisme, Protestan dan Katolik.

China mempertahankan kontrol atas urusan agama melalui Badan Negara untuk Urusan Agama (SARA), sebuah badan pemerintah. Asosiasi Katolik Patriotik China (CPCA), yang didirikan pemerintah tahun 1957, mengawasi umat Katolik daratan China dan menjamin gereja setia kepada negara.

FlorCruz mengutip sorang peneliti tentang kekatolikan di China yang mengatakan, "Pengawasan oleh polisi lokal dan pemerintah ketat. Namun ada banyak kelompok-kelompok Katolik yang secara aktif menjalankan ibadat di kota-kota kecil dan kota-kota besar. Ada yang menjalan ibadat secara terbuka, bekerja sama dengan CPCA, dan yang lain bertemu dalam apa apa yang disebut gereja-gereja bawah tanah." Peneliti itu meminta tidak disebutkan namanya karena mengomentari isu-isu agama tetap merupakan hal yang sangat sensitif.

China memiliki lebih dari enam juta orang Katolik, menurut sebuah laporan yang disetujui pada Kongres Nasional ke-8 Katolik China pada awal Desember, lapor China Daily. Namun menurut peneliti itu, jumlahnya bisa lebih banyak jika mencakup "gereja-gereja rumah", yang tetap bergerak di bawah tanah karena takut akan pelecehan atau penangkapan. Gereja-gereja seperti ini tumbuh setelah pengambilalihan oleh Partai Komunis tahun 1949, ketika pemerintah memerintahkan pendaftaran semua organisasi keagamaan.

Masih menurut peneliti tersebut, ada kelompok Katolik yang ketiga, yaitu (kelompok) Katolik yang telah muncul dari gereja-gereja bawah tanah dan bekerja dengan CPCA, tetapi mereka juga tetap setia kepada Roma. "Mereka mengatakan, mereka hanya lelah berada di bawah tanah," katanya. "Mereka lebih pragmatis."

Beijing dan Vatikan memutuskan hubungan diplomatik tahun 1951 tetapi upaya masih terus dilakukan untuk mendamaikan perbedaan. Beijing mengizinkan Katolik China menerima kepemimpinan rohani Paus, tetapi menegaskan bahwa Roma juga harus membuat konsesi. "Vatikan harus memutuskan hubungan diplomatik dengan Taiwan dan tidak mencampuri urusan dalam negeri China," kata juru bicara kementerian luar negeri China, Jiang Yu. Hal itu termasuk kontrol atas penahbisan uskup China. Dalam beberapa kasus pada beberapa tahun terakhir, China telah menahbiskan uskup tanpa restu Paus. Tahta Suci berpandangan langkah itu melanggar norma-norma gereja dan menantangan otoritas kepausan.

November lalu, hubungan menjadi lebih tegang ketika CPCA kembali menunjuk seorang uskup tanpa persetujuan Tahta Suci. Pekan lalu, hubungan memburuk ketika Vatikan mengecam pemilihan China atas anggota senior pejabat Gereja Katolik China. "Keinginan gigih untuk mengendalikan area paling intim dari kehidupan warga, yaitu hati nurani mereka, dan mengganggu kehidupan internal Gereja Katolik bukan tugas China," kata Vatikan dalam sebuah pernyataan. "Sebaliknya, itu tampak menjadi tanda ketakutan dan kelemahan ketimbang kekuatan."

China menyerang balik. Pada tanggal 23 Desember, juru bicara SARA menyalahkan Vatikan karena merusak hubungan China-Vatikan. SARA menilai pernyataan Vatikan itu sangat tidak bijaksana dan tidak membumi, lapor kator berita Xinhua. Juru bicara itu menuduh Tahta Suci sedang mendorong ideologi politik melalui keyakinan agama.

Namun keretakan hubungan Vatikan-China, kata FlorCruz, hampir tidak memengarui suasana meriah (Natal). "Bertahun-tahun lalu, Natal merupakan sesuatu yang haram di China. Saya hanya bisa merayakannya di rumah dengan beberapa teman dekat. Sekarang ini, saya berharap untuk merayakannya dengan senang, dengan keluarga saya dan masyarakat setempat. Setelah jamuan malam Natal, kami bisa pergi ke Katedral Dikandung Tanpa Noda untuk mengikuti misa tengah malam tradisional, seperti yang pernah saya lakukan pada 1980-an. Sekarang ini, ketika saya menyapa orang dengan "shengdan kuaile!" Saya berharap tidak kembali mendapatkan tatapan kosong tetapi senyum dan jabatan tangan yang hangat," tulis FlorCruz.


sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Sat Dec 03 2016 09:47 AM
Our Visitors :892245
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT