bg lower
MYANMAR
“Hari Kayah” tingkatkan persatuan

(19/01), Gereja Katolik di Myanmar menolong orang muda warga Suku Kayah untuk tetap mempertahankan kebudayaan mereka. Gereja membantu mereka untuk memahami kebudayaan mereka dan untuk menyelenggarakan berbagai peristiwa tradisional mereka.

Gereja Myanmar sangat mendukung perayaan budaya dari etnis setempat.

“Kita mesti bersyukur kepada Allah karena kita diberi kesempatan untuk merayakan ‘Kayah State Day’ dan ini berarti kita perlu mencintai daerah kita dan lingkungan hidup kita,” kata Pastor Celso Ba Shwe dari Keuskupan Loikaw. Keuskupan tersebut baru saja menyelenggarakan Kayah State Day untuk meningkatkan persatuan, kesetiaan, dan semangat budaya di kalangan generasi muda.

Kepala Paroki Katedral Hati Kudus itu mengatakan, Kayah State Day merupakan kesempatan bagi orang muda untuk melestarikan berbagai kegiatan budaya mereka, karena cukup banyak orang muda juga yang tidak punya kesempatan untuk mengalami hal-hal tersebut.

Sekitar 3.000 warga Suku Kayah — Katolik, Protestan, Budha, dan animis bersatu pada 15 Januari untuk merayakan Kayah State Day ke-59 di Loikaw, ibukota Negara Bagian Kayah.

Perayaan itu diisi dengan berbagai kegiatan, antara lain, olahraga, pertandingan, pementasan budaya, dan pertemuan api unggun.

“Kami ingin menanamkan rasa cinta dan hormat terhadap wilayah dan kebudayaan Kayah di kalangan generasi muda,” kata U Mg Thein, 80, seorang sesepuh beragama Budha.

U Thein mengatakan, setiap orang mesti memiliki suatu pengetahuan umum tentang suku mereka dan ini bisa dilakukan melalui pameran, pertandingan, dan pertemuan yang bersifat kultural.

Ketua komisi sastra dan budaya Kayah itu mengatakan, peristiwa budaya ini dimaksud untuk menciptakan persatuan tanpa mempedulikan latar belakang agama. Melalui peristiwa ini juga, diharapkan masyarakat terus bersemangat untuk meneruskan perayaan tahunan ini.

“Tarian-tarian budaya seperti ‘tumbuk padi’ membuat kami gembira dalam perayaan ini,” kata Thuzar Tin. Perawat beragama Budha berusia 25 tahun ini mengatakan, dia dan teman-temannya harus melakukan perjalanan cukup jauh untuk menyaksikan praktek budaya dari warga Suku Kayah.

Menurut U Thein, sebelum Myanmar merdeka dari penjajahan Inggris tahun 1948, Kayah State disebut Kayenni State. Tahun 1951, Kayah menjadi nama daerah ini dan sejak 15 Januari 1952, Kayah State Day mulai dirayakan.

Dulu, nama untuk warga suku tersebut adalah Karenni, karena mereka menggunakan pakaian berwarna merah, katanya.

Menurut Buku Petunjuk Gereja Katolik 2011, populasi Kayah State berjumlah 301.187 jiwa, dengan rata-rata 17 orang per kilometer persegi.

Sekitar tiga per empat dari populasi adalah kelompok minoritas etnis — Kayan, Kayaw, dan Kayak, sementara sisanya adalah warga Burma, Shan, dan Kayah.

Agama dominan di Kayah State adalah Kristen dan Budha, dan tempat ini juga merupakan basis agama Katolik di Myanmar.

ucanews.com




sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Tue Dec 06 2016 12:01 AM
Our Visitors :892868
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT