Mengajar Kitab Suci di STFT Widya Sasana Malang.10 This particular reading is no longer used on 8 December—a pity, in my view. ' />
bg lower
Maria dalam Kitab Suci dan Ajaran Gereja
Oleh:
Rm. F.X. Didik Bagiyowinadi,Pr<1>



A. Tidak Setiap Nabi dan Pemimpi itu Perlu Diikuti
Sebagai orang beriman, kerap kita dibingungkan dengan aneka ramalan, nubuatan,
dan pewahyuan yang diklaim berasal dari Tuhan. Situasi semakin mencemaskan
manakala ramalan dan nubuatan bencana itu dikait-kaitkan dengan bencana/musibah
yang tengah dialami umat. Bagaimana kita mesti bersikap? Bahwa akan ada bencana,
perang dan kekacauan, Tuhan Yesus sudah mengingatkan. Kita diajak untuk tidak
terkecoh oleh mesias-mesias palsu yang bermunculan dalam situasi kekacauan dan
bencana ini. “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan
datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat.
Janganlah kamu mengikuti mereka” (Luk 21:8).

Bagaimana kita tahu, bahwa pewahyuan, ramalan, atau nubuatan seseorang itu tidak
berasal dari Tuhan? Kitab Taurat telah memberikan panduan, “Apabila di
tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi, dan ia memberitahukan
kepadamu suatu tanda atau mujizat, dan apabila tanda atau mujizat yang
dikatakannya kepadamu itu terjadi, dan ia membujuk: Mari kita mengikuti allah
lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya, maka janganlah
engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu; sebab TUHAN, Allahmu,
mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi TUHAN,
Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu” (Ul 13:1-3). Jadi,
sekalipun seseorang bisa menunjukkan tanda atau mukjizat, tidak otomatis itu
berasal dari Tuhan. Sebab kriteria berikutnya, apakah dia mengajak kita semakin
beriman kepada Tuhan ataukah justru membujuk kita mengikuti allah lain yang
tidak kita kenal. Karena itu, isi pewahyuan atau nubuatan itu sendiri perlu
dicek dengan Alkitab sebagai sumber iman kita.

B. Bunda Maria dan Amsal 8:22
Terus-terang saya terkejut, ketika ‘Maria’ dalam nubuatan ibu Agnes
Sawarno mengaku diri sebagai roh yang sudah tercipta sebelum dunia diciptakan.
Dan referensi yang dirujuk adalah Ams 8:22. Berikut ini hasil studi saya,
sejauhmana Ams 8:22 bisa dikaitkan dengan Bunda Maria.

1. Penafsiran dan terjemahan atas teks Amsal 8:22
Bahasa Ibrani:
WTTProverbs 8:22 יְֽהוָ֗ה קָ֭נָנִירֵאשִׁ֣ית דַּרְכּ֑וֹ קֶ֖דֶם מִפְעָלָ֣יו
מֵאָֽז׃
Bahasa Yunani:
LXT Proverbs 8:22κύριοςἔκτισένμεἀρχὴνὁδῶναὐτοῦεἰςἔργααὐτοῦ

Bahasa Latin:
VUL Proverbs 8:22Dominus possedit me initium viarum suarum antequam quicquam
faceret a principio

Bahasa Inggris:
NAU Proverbs 8:22"The LORD possessed me at the beginning of His way, Before His
works of old.
NJB Proverbs 8:22"Yahweh created me, first-fruits of his fashioning, before the
oldest of his works.
Bahasa Italia:
IEP Proverbs 8:22Il Signore mi ha creato all"inizio del suo operare, prima delle
sue opere più antiche
NRV Proverbs 8:22Il SIGNORE mi ebbe con sé al principio dei suoi atti, prima di
fare alcuna delle sue opere più antiche.

Bahasa Indonesia:
ITB Proverbs 8:22TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya,
sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala.

Kesimpulan: kata kerja Ibrani “qana” diterjemahkan dengan tiga kemungkinan kata
kerja: menciptakan, memiliki, atau ada bersama.

2. Maka siapa “aku” yang diciptakan, dimiliki, atau ada bersama Yahwe-Tuhan
sebelum penciptaan?
Tafsir pertama dan utama: “aku” di sini adalah Kebijaksanaan yang
dipersonifikasi sebagai seorang wanita. Dalam bahasa Ibrani kebijaksanaan
disebut “hokmah”, yang berjenis kata feminim. Kata Ibrani ini kemudian
diterjemahkan dengan Sophia (Yunani-LXX, feminim), Sapientia (Latin), Wisdom,
Hikmat, atau Kebijaksanaan.

Tafsir kedua: “aku” disini dilihat sebagai persiapan warta Injil, dimana dilihat
sebagai preeksistensi Yesus, yang sudah ada bersama-sama dengan (alternatif
terjemahan ketiga) Allah sejak awal penciptaan. Agaknya penginjil Yohanes
terinspirasi teks Ams 8 ini saat merenungkan preeksistensi Yesus dalam Yoh
1:1-2. Dalam prolog Injil keempat ini digunakan kata Yunani Logos yang berjenis
kata maskulin untuk menyebut Sabda/Firman Allah.

John 1:1-2 BGT John 1:1Ἐνἀρχῇἦνὁλόγος, καὶὁλόγοςἦνπρὸςτὸνθεόν, καὶθεὸςἦνὁλόγος.
2 οὗτοςἦνἐνἀρχῇπρὸςτὸνθεόν.

John 1:1-2 VUL John 1:1 in principio erat Verbum et Verbum erat apud Deum et
Deus erat Verbum 2 hoc erat in principio apud Deum

John 1:1-2 NJB John 1:1 In the beginning was the Word: the Word was with God
and the Word was God. 2 He was with God in the beginning.

John 1:1-2 ITB John 1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama
dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. 2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan
Allah.

Maka Ams 8:22 bisa dimengerti sebagai preeksistensi Yesus. Bdk. Ams 8:22 ini
juga dipakai sebagai bacaan pertama dalam Misa Hari Raya Tritunggal Mahakudus,
Tahun C.

3. Bisakah diterima penerapan Ams 8:22 kepada Bunda Maria (karena “Hokmah” itu
berjenis kata feminim), dengan kesimpulan bahwa Maria itu berarti memang sudah
tercipta sebelum dunia tercipta?

Di antara para ahli teologi, memang terdapat perbedaan pendapat soal kapan
conception Maria Immaculata, yakni antara Thomas Aquinas dan Don Scotus. Thomas
Aquinas berpendapat bahwa hal itu terjadi setelah pembuahan, karena Maria juga
membutuhkan penebusan Yesus Kristus. Sementara Don Scotus berpendapat bahwa
sejak manusia jatuh dalam dosa, maka dalam pikiran Tuhan sudah direncanakan
datangnya Penebus dan wanita yang akan mengandung-melahirkannya.

Namun tidak bisa diterima anggapan bahwa Maria ini sudah ada sebelum penciptaan
dunia, karena menurut pandangan Don Scotus pun, Maria baru ada dalam pikiran
Tuhan (bukan diciptakan sebagai roh yang melayang-layang) sejak manusia jatuh
dalam dosa dan Tuhan menjanjikan datangnya Sang Penebus (Kej 3:15). Apalagi bila
kita menilik jenis kata feminim pada Ams 8:22 sebenarnya lebih mengacu pada
Kebijaksanaan Ilahi yang dipersonifikasikan sebagai seorang wanita, maka
penerapan Ams 8:22 kepada Bunda Maria sebagai hal yang dipaksakan.

Berkaitan dengan pemilihan Maria (bukan penciptaan) sejak kekal, Katekismus
Gereja Katolik merumuskan sbb:

a) KGK 488: “Untuk tugas menjadi ibu Putera-Nya, Allah telah memilih sejak
kekal seorang puteri Israel, seorang puteri Yahudi dari Nazaret di Galilea,
seorang perawan, yang “bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga
Daud: nama perawan itu Maria” (Luk 1:26-37).
b) KGK 492: Bahwa Maria “sejak saat pertama ia dikandung, dikaruniai cahaya
kekudusan yang istimewa” (LG 56), hanya terjadi berkat jasa Kristus: “Karena
pahala Puteranya, ia ditebus secara lebih unggul” (LG 53). Lebih dari pribadi
tercipta yang manapun Bapa “memberkati dia dengan segala berkat Roh-Nya oleh
persekutuan dengan Kristus di dalam surga” (Ef 1:3). Allah telah memilih dia
sebelum dunia dijadikan, supaya ia kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya”
(Bdk. Ef 1:4).

Menganggap Maria sudah ada sebelum penciptaan dunia, sama artinya dengan
menganggap dia sebagai dewi, bukan manusia seperti kita, maka tidak bisa
dijadikan sebagai teladan bagi orang beriman. Sementara LG 63 menyebut, “Seperti
telah diajarkan oleh S. Ambrosius, Bunda Allah itu pola Gereja, yakni dalam hal
iman, cinta kasih dan persatuan sempurna dengan Kristus”. Lebih lanjut,
“Sementara dalam diri Santa Perawan, Gereja telah mencapai kesempurnannya yang
tanpa cacat atau kerut (lih. Ef 5:27), kaum beriman kristiani sedang berusaha
mengalahkan dosa dan mengembangkan kesuciannya... Dalam hidupnya Santa Perawan
menjadi teladan cinta kasih keibuan, yang juga harus menjiwai siapa saja yang
tergabung dalam misi kerasulan Gereja demi kelahiran baru sesama mereka” (LG
65).

Maria adalah seorang perempuan (Gal 4:4) dan manusia sama seperti kita yang juga
membutuhkan karya penebusan Kristus (lih. LG 53). Dia terpuji di antara wanita
(Luk 1:42) dan disebut berbahagia oleh semua keturunan karena perbuatan ajaib
Tuhan atas dia (Luk 1:48-49), bukan saja karena dipilih menjadi Bunda Penebus
tetapi juga karena dia telah melakukan kehendak Tuhan (lih. Lukas 11:27-28:
Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang
banyak dan berkata kepada-Nya: "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau
dan susu yang telah menyusui Engkau." TetapiIaberkata: "Yang berbahagia ialah
mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."

Maka Lumen Gentium 67 mengingatkan semangat devosi-bakti yang sejati kepada
Bunda Maria: “bahwa bakti yang sejati tidak terdiri dari perasaan yang mandul
dan bersifat sementara, tidak pula dalam sikap mudah percaya tanpa dasar. Bakti
itu bersumber pada iman yang sejati, yang mengajak kita mengakui keunggulan
Bunda Allah, dan mendorong kita untuk sebagai putera-puteranya mencintai Bunda
kita dan meneladan keutamaan-keutamaannya.”

Uraian lebih lanjut tentang the conception of Mary, dapat dibaca uraian John
Macquarrie terlampir di bawah.

C. Rumusan Salam Maria bersumber dari Injil dan tambahan Gereja abad XVI:

Asal Teks Injil Rumusan Doa Salam Maria Teks Salam Maria Bahasa Latin
1. Sapaan Malaikat Gabriel "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan
menyertai engkau." (Luk 1:28).

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. AVE Maria, gratia plena, Dominus
tecum

1. Seruan Elisabeth "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan
diberkatilah buah rahimmu. (Luk 1:42)
Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu,
Yesus. Benedicta tu in mulieribus, et benedictus fructus ventris tui, Iesus.
1. Seruan Permohonan Gereja
(dalam Katekismus Petrus Canisius – 1555 dan sejak Konsili Trente) - Santa
Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami
mati.Amin. Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc, et in
hora mortis nostrae.

Amen.

Bandingkan dengan rumusan doa Pujian Maria versi Kelompok Pelayanan Kasih Ibu
yang bahagia:
"Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu,
terpujilah engkau di antara wanita
dan terpujilah engkau kini dan sepanjang masa"

Refleksi kritis:
1. Setiakah rumusan doa Salam (Pujian) Maria versi kelompok ini dengan isi
teks Injil? Kenapa pujian kepada Yesus “diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42b)
dihilangkan dan diganti dengan “engkau, kini dan sepanjang masa”? Siapakah
“engkau” yang dimaksud di sini, tetap Maria yang sama (yang terpuji di
antara wanita) ataukah pribadi lain? Dengan demikian rumusan pujian Maria
ini mengabaikan aspek kristologis dari doa Salam Maria yang sangat biblis
ini.
2. Mengapa bagian tambahan Gereja yang sudah ada sejak abad XVI dan
melukiskan seruan-permohonan kita untuk didoakan oleh Bunda Surgawi kita
ini begitu saja dihilangkan? Dalam bagian ini justru terungkap pengakuan
iman Gereja bahwa Santa Maria adalah Bunda Allah dan kita memohon doanya
senantiasa.
3. Dalam praktek doa bersama di tengah umat akan timbul kebingungan dan
kerancuan, manakah yang mesti digunakan? Doa resmi Gereja mengandaikan
adanya nihil obstat (pernyataan bahwa isi doa-tulisan itu tidak ada yang
bertentangan dengan iman-moral Katolik) dan imprimatur (pernyataan
Uskup/wakilnya bahwa doa-tulisan itu boleh disebarluaskan). Rumusan doa
Salam Maria “tradisional-konvensional” inilah yang telah mendapatkan nihil
obstat dan imprimatur.

D. Kegelapan Tiga Hari dan Rahasia Ketiga Fatima tentang Kehancuran Dunia
Pewahyuan soal Kegelapan Tiga Hari yang disampaikan oleh Ibu Agnes Sawarno
selalu diklaim sebagai penerusan pesan Fatima. Kelompok ini menganggap bahwa
pihak Vatikan sengaja masih menutupi soal rahasia ketiga Fatima yang diyakini
memuat soal kehancuran dunia. Benarkah demikian?
Untuk menanggapi klaim ini, kita bisa membaca pernyataan Kardinal Tarcisio
Bertone dalam buku The Last Secret of Fatima, Rahasia Terakhir Fatima (Dioma,
2010, hlm. 98-101) yang jelas-jelas menepis adanya isu dan ramalan miring soal
kehancuran dunia dalam Rahasia Fatima ini. Saya kutipkan tanggapan beliau atas
hipotesis Marco Tossati tentang “The Unrevealed Secret” yang menduga adanya dua
amplop, dimana yang pertama tidak dipublikasikan. Dalam wawancara dengan
Giuseppe de Carli, Kardinal Bertone menjawab demikian.

Tidak ada “dokumen pertama”. Tidak pernah ada teks seperti itu dalam arsip
Vatikan. Untuk dapat mengakses dokumen-dokumen di sana, dibutuhkan tiga buah
kunci. Pada masa itu, Prefek Konggregasi Ajaran Iman belum dibentuk. Sri Paus
sendiri yang mengepalai Konggregasi Ajaran Iman. Jadi saya tidak tahu apa yang
dibicarakan oleh Kardinal Ottaviani. Tetapi saya tahu dua hal. Pertama, sejauh
ingatan para custodian yang menjaga arsip, tidak pernah ada dua amplop yang
terpisah. Hanya ada satu amplop. Kedua, kami memegang konfirmasi resmi, dari
Suster Lucia: “Apakah ini Rahasia Ketiga, apakah ini satu-satunya teks Rahasia
Fatima?” “Ya, ini teks Rahasia Ketiga, dan saya tidak pernah menulis yang lain.”
Para Fatimist garis keras, seperti para pengikut Romo Nicholas Gruner dan para
pembaca majalahnya, Fatima Crusader, kecewa.

Benar. Teks yang tidak diketahui tersebut seharusnya meramalkan sebuah bencana:
sebuah hukuman yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya dengan konsekuensi
kerusakan yang luar biasa bagi Gereja, orang-orang yang beriman dan hirarki. Ini
adalah sebuah skenario yang membuat kardinal melawan kardinal dan itu
mencerminkan menurunnya iman dan membuka pintu neraka di dunia.
Ini semua sangat sensasional, dapat dikatakan seram, tetapi itu semua tidak
didukung oleh satu pun bukti yang didokumentasikan (hlm. 99-100)

E. Soal Wahyu Pribadi
Akhirnya, kita perlu mengingat bahwa nubuatan ataupun pewahyuan yang kemudian
diakui sebagai otentik oleh Gereja, tetaplah termasuk wahyu pribadi. Bukan wahyu
umum yang menentukan keselamatan kita. Pewahyuan umum telah selesai dengan
meninggalnya rasul Yesus yang terakhir. Jadi, wahyu yang muncul kemudian hari,
termasuk wahyu pribadi, tidak menentukan keselamatan kita. Keselamatan kita
terletak pada iman akan pribadi Yesus Kristus yang kita wujudkan dalam tindakan
kasih yang nyata.
Lalu, apa itu wahyu pribadi? Berikut ini penyataan Katekismus Gereja Katolik no.
67:
Dalam peredaran waktu terdapatlah apa yang dinamakan “wahyu pribadi”, yang
beberapa di antaranya diakui oleh pimpinan Gereja. Namun wahyu pribadi itu tidak
termasuk perbendaharaan iman. Bukanlah tugas mereka untuk “menyempurnakan” wahyu
Kristus yang definitif atau untuk “melengkapinya”, melainkan untuk membantu
supaya orang dapat menghayatinya lebih dalam lagi dalam rentang waktu tertentu.
Di bawah bimbingan wewenang mengajar Gereja, maka dalam kesadaran iman, umat
beriman tahu membedakan dan melihat dalam wahyu-wahyu ini apa yang merupakan
amanat otentik dari Kristus atau para kudus kepada Gereja
Iman Kristen tidak dapat “menerima” wahyu-wahyu yang mau melebihi atau
membetulkan wahyu yang sudah dituntaskan dalam Kristus. Hal ini diklaim oleh
agama-agama bukan Kristen tertentu dan seringkali juga oleh sekte-sekte tertentu
yang mendasarkan diri atas “wahyu-wahyu” yang demikian itu.
Maka wahyu pribadi itu tidak bersifat mengikat, tidak termasuk dalam
perbendaharaan iman, maka tidak ada kewajiban bagi kita untuk mempercayainya,
apalagi bila isinya jelas-jelas bertentangan dengan ajaran iman dan moral
Katolik.

Mari Memandang Maria yang Memangku Jenazah Putranya
Semoga uraian ini makin meneguhkan iman kita akan kasih keibuan Bunda Maria, dan
terlebih lagi, kita tidak lagi berpolemik apakah bencana alam akhir-akhir ini
sebagai hal yang telah dinubuatkan oleh ‘Maria’, tetapi mari kita mendoakan dan
menolong putra-putri Maria yang dirundung nestapa oleh pelbagai bencana di
negeri ini. Bunda Maria yang telah memangku-meratapi jenazah Putranya, kiranya
mengundang kita juga untuk berbela rasa dengan para korban bencana dengan
tindakan yang nyata.

Malang, 16 November 2010


Lampiran:
JOHN MACQUARRIE, Mary for All Christians,(Edinburg: T&T Clarck, 2001) Hlm. 62-64
(cetak tebal dan garis bawah oleh Romo Didik Pr)

For the purpose of the present discussion, I suggest that we should understand
conception as ‘the absolute origination of a person’. This is not a biological
but a philosophical definition, and it speaks not of the fusion of cells or
anything of that sort, but of the mystery of the coming into being of a human
person. The definition accepts Thomas’ point that only with the beginning of
personal life does it make sense to talk of sin or righteousness, and it is
compatible with different theories about the relation of (biological) conception
and animation, if we may use the antiquated terminology.
Again, we can appreciate our debt to artists at this point, for Christian
artists who have attempted to depict the Immaculate Conception have visualized
it as a public or even cosmic event. It is an event involving persons, both
human and divine. The conception of Mary, in this philosophical and theological
sense, can be considered in three contexts: her conception in the mind of God;
her conception in the people of Israel; and her conception within the marriage
relationship of Joachim and Anna, as her parents have been traditionally called.
So we consider first Mary’s conception in the mind of God. Here we come back to
that profound metaphysical understanding of Immaculate Conception which finds
expression in the painting of Velazquez. The same ideas find verbal expression
in the portion of scripture which used to be read for the epistle at the Mass on
the Feast of the Immaculate Conception (8 December):
The Lord possessed me in the beginning of his ways, before he made anything,
from the beginning. I was set up from eternity, and of old, before the earth was
made. The depths were not as yet, and I was already conceived (Prov.
8:22ff).10
This last sentence runs, in the Latin of the Vulgate, ego iam concepta eram.
Originally, of course, these words were intended to refer to the divine Wisdom,
metaphorically personified. Perhaps this passage was in the mind of John when he
wrote his prologue to the fourth gospel. But there is this difference—the Word
or Logos about which John wrote is a masculine noun, whereas Wisdom is feminine
in both Hebrew and Greek (hokhmaand sophia). Grammatical gender, as we have seen
in an earlier chapter, is an arbitrary matter, but it is understandable that the
Old Testament praise of Wisdom was felt to be peculiarly fitting to the Blessed
Virgin, just as many other passages in the Old Testament that had originally
nothing to do with the expectation of a messiah have come to be applied to
Christ in Christian liturgy and theology.
‘The depths were not as yet, and I was already conceived.’ The words, when
applied to Mary, are not intended to suggest any pre-existence. But her ultimate
or metaphysical conception had taken place in the beginning in the salvific
purposes of God. We are thinking here of the mystery of election. Already in the
beginning God had elected Mary to her unique vocation in the scheme of
salvation. Not only Mary originates in this divine conception. The whole human
race is embraced within the divine election.

________________________________

<1>Mengajar Kitab Suci di STFT Widya Sasana Malang.
10 This particular reading is no longer used on 8 December—a pity, in my view.

sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Tue Feb 28 2017 05:51 AM
Our Visitors :910274
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT