bg lower
Kidung Agung 8:1-3 menceritakan Inkarnasi Kristus

oleh Gereja Katolik pada 17 Januari 2011

Kitab Kidung Agung, suatu ungkapan kasih antara Kristus – sebagai mempelai pria dan Israel/Gereja/Jiwa -sebagai mempelai wanita

Ada berapa banyak orang yang membaca Kitab Kidung Agung dan terperangah serta menggaruk-garuk kepala, karena isinya yang dirasakan terlalu “berani” untuk menjadi bagian dari Kitab Suci. Namun kalau kita percaya bahwa Kitab Kidung Agung adalah menjadi bagian dari Sabda Allah, dan Gereja Katolik dengan inspirasi Roh Kudus, memasukkan Kitab ini menjadi bagian dari Kitab Suci, maka Kitab ini juga akan memberikan begitu banyak hikmat, yang menuntun manusia pada kepenuhan Wahyu Ilahi. Kalau kita mempelajari lebih dalam, sungguh kitab Kidung Agung adalah suatu puisi, jeritan hati yang terdalam, ungkapan hati dari sepasang kekasih.

Memang tidak mudah untuk mengerti Kitab Kidung Agung. Namun, kalau kita melihat ke belakang, melihat sejarah Gereja, begitu banyak Bapa Gereja yang menuliskan komentar tentang Kitab Kidung Agung. Mereka melihat bahwa sepasang kekasih yang saling bersahut-sahutan ini mewakili hubungan antara Allah dengan Israel, atau Kristus dengan Gereja, atau Kristus dengan jiwa kita masing-masing. Dan untuk mengungkapkan hubungan yang tak terpisahkan, maka digunakan bahasa puisi sehingga terlihat ekspresi kedekatan dan kemesraan antara keduanya. Dalam tatanan kodrat (natural order), hubungan apakah yang lebih intim daripada hubungan sepasang suami-istri? Bahkan, Gereja Katolik melihat hubungan seksual antara suami-istri sebagai sesuatu yang agung dan suci, karena menggambarkan Trinitas. Kalau dalam Trinitas pertukaran kasih Allah Bapa dan Allah Putera menghembuskan Roh Kudus, maka dalam hubungan suami istri, pertukaran kasih antara suami dan istri menghasilkan keturunan. Begitu sucinya hubungan ini, sehingga membuat sebuah perkawinan tidak terceraikan. Di dalam konteks kesucian perkawinan (tatanan kodrat) inilah dan dalam hubungannya antara Kristus dan Israel, Gereja, dan jiwa kita (tatanan adi-kodrati), maka kita dapat menginterpretasikannya dengan baik dan menangkap esensi dari Kitab Kidung Agung. Mari sekarang kita melihat Kidung Agung 8:1-3.

1. O, seandainya engkau saudaraku laki-laki, yang menyusu pada buah dada ibuku, akan kucium engkau bila kujumpai di luar, karena tak ada orang yang akan menghina aku!

2. Akan kubimbing engkau dan kubawa ke rumah ibuku, supaya engkau mengajar aku. Akan kuberi kepadamu anggur yang harum untuk diminum, air buah delimaku.
3. Tangan kirinya ada di bawah kepalaku, tangan kanannya memeluk aku.

8:1, Harapan akan kedatangan Mesias

8:1. O, seandainya engkau saudaraku laki-laki:



Kita akan terperangah membaca hal ini. Mengapa mempelai wanita malah mengharapkan mempelai prianya adalah saudara laki-lakinya, saudara sekandung yang menyusu pada buah dada ibu yang sama? Apakah dengan demikian mempelai wanita ingin bercinta dengan saudara sepupuan? Sebenarnya tidaklah seperti itu, kita mengartikan ayat ini. Berikut ini adalah beberapa interpretasi tentang hal ini:<1>

a) Father Buzy, seorang ahli Alkitab menginterpretasikan bahwa pada jaman tersebut (oriental tradition), seorang mempelai wanita tidak dapat untuk mengekpresikan kasihnya kepada mempelai pria di depan umum. Hal ini sama seperti kalau kita melihat beberapa tradisi upacara pengantin Jawa, atau daerah lain, yang sama sekali tidak ada saling mencium atau memeluk di depan umum. Atau kalau kita melihat sepasang kekasih di pedesaan, di mana tradisi masih dipegang sangat kuat, maka mereka tidak dapat menunjukkan kasih mereka di depan umum, tidak seperti orang pacaran jaman sekarang di kota-kota yang bebas mengekpresikan perasaan mereka.

Dalam konteks inilah, mempelai wanita mengharapkan agar mempelai prianya adalah saudara laki-lakinya, sehingga dengan demikian dia dapat mengekspresikan kasihnya secara bebas. Ekspresi kasih di sini jangan diartikan sebagai hubungan seksual, namun sebagai ekspresi kasih yang suci. Hal ini diungkapkan juga oleh Rasul Paulus, dengan mengatakan “Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus.” (Rom 16:16).

b) Analisa yang lain adalah, mempelai wanita menginginkan hubungan yang lebih murni dan seimbang dengan mempelai prianya, seperti hubungan kasih antara sesama saudara.

c) Pengertian yang lain, yang kita dapat tarik adalah mempelai wanita menginginkan agar mempelai prianya, bukan hanya menjadi suaminya, namun juga sebagai saudara laki-lakinya. Kita melihat bagaimana mempelai pria di ayat-ayat sebelumnya, memanggil mempelai wanita sebagai “dinda (ITB) / sister (RSV)” (lih. Kid 4:9,10,12; 5:1,2)



8:1. yang menyusu pada buah dada ibuku

Dalam beberapa kesempatan, sang mempelai pria memanggil sang kekasih bukan saja dengan mempelai wanita, namun juga dinda atau sister (RSV), seperti:

“9. Engkau mendebarkan hatiku, dinda, pengantinku, engkau mendebarkan hati dengan satu kejapan mata, dengan seuntai kalung dari perhiasan lehermu. 10 Betapa nikmat kasihmu, dinda, pengantinku! Jauh lebih nikmat cintamu dari pada anggur, dan lebih harum bau minyakmu dari pada segala macam rempah. 12 Dinda, pengantinku, kebun tertutup engkau, kebun tertutup dan mata air termeterai.” (Kid 4:9-10, 12)

“1. Aku datang ke kebunku, dinda, pengantinku, kukumpulkan mur dan rempah-rempahku, kumakan sambangku dan maduku, kuminum anggurku dan susuku. Makanlah, teman-teman, minumlah, minumlah sampai mabuk cinta! 2. Aku tidur, tetapi hatiku bangun. Dengarlah, kekasihku mengetuk. “Bukalah pintu, dinda, manisku, merpatiku, idam-idamanku, karena kepalaku penuh embun, dan rambutku penuh tetesan embun malam!” (Kid 5:1-2)

Memang perkataan dinda, sister (RSV), (Ibrani H269 = achoth ), dapat diartikan secara luas, baik untuk saudara perempuan dari orang tua yang sama, dari ibu atau ayah yang sama, atau dapat juga untuk menyebutkan mempelai wanita. Namun, semuanya menyatakan akan keintiman hubungan antara pria dan wanita yang diikat oleh kasih, baik kasih dalam ikatan darah maupun antara sepasang kekasih.

Kita juga tahu bahwa pada jaman dahulu, seorang suami mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada seorang istri. Dalam beberapa ayat di atas, mempelai pria begitu menghargai dan mengasihi mempelai wanitanya, sehingga dia bukan hanya ingin menjadikan mempelai wanita sebagai istri, namun juga sebagai saudara wanita, yang mempunyai derajat yang sama. Dia ingin mengangkat mempelainya, sehingga mempelai pria dan mempelai wanita dapat mengasihi dengan kasih yang seimbang.

Namun, mempelai wanita yang menyadari kodratnya sebagai seorang istri yang mempunyai kekudukan lebih rendah daripada suami tidak berani untuk menyebutkan mempelai pria sebagai saudara laki-lakinya, sampai pada bab 8. Kepercayaan ini timbul, karena mempelai prialah terlebih dahulu menyebutnya sebagai dinda atau sister. Dan dengan ungkapan yang sama, maka mempelai wanita mengharapkan bahwa mempelai laki-lakinya juga dapat menjadi saudara laki-lakinya.

“Yang menyusu pada buah dada ibuku” adalah suatu ungkapan harapan dari sang mempelai wanita – jiwa manusia, atau Israel, atau Gereja -, yang mengharapkan bahwa mempelai prianya adalah dari ras yang sama, sehingga mempunyai kodrat yang sama.<2>. Di sinilah terjadi suatu gambaran dari Inkarnasi. Dengan mempelai pria (Kristus) menyebutkan mempelai wanita sebagai saudara perempuan, maka Kristus ingin mengangkat umat Israel, Gereja, umat Allah, untuk berpartisipasi dalam kehidupan Allah, diangkat menjadi anak-anak Allah. Dengan mempelai wanita mengharapkan mempelai Pria adalah saudaranya laki-laki, maka Gereja mengharapkan agar Kristus dapat turun menjadi manusia, sehingga manusia dapat melihat dan mengalami kasih dari Allah secara teraba, dan manusia dapat mengungkapkan kasihnya kepada Kristus secara lebih nyata. Dan dua harapan ini, hanya dapat tercapai dengan Inkarnasi, dimana Yesus, Sang Putera Allah, merendahkan diri-Nya sebagai manusia, sehingga Yesus dapat mengangkat harkat seluruh umat manusia ke tempat yang tinggi. Manusia yang diciptakan sebagai gambaran Allah dan Kristus yang turun ke dunia sebagai gambaran manusia, yang mempunyai kodrat sebagai manusia, membuat Kristus dapat mengajar dan menuntun manusia kepada kepenuhan kebenaran.



8:1. akan kucium engkau bila kujumpai di luar, karena tak ada orang yang akan menghina aku!

Dengan pengertian di atas, maka kita melihat bahwa Gereja mengharapkan agar Allah sendiri datang ke dunia, sehingga Gereja dapat menunjukkan kepada dunia, siapakah Tuhannya. Pada saat orang lain, yang mempunyai tuhan yang berhala, yang terbuat dari batu, kayu, dan gambaran lain, maka dengan bangganya, sang mempelai wanita akan mengatakan “akan kucium engkau bila kujumpai di luar” atau akan kutunjukkan kepada dunia siapakah Tuhanku.

Dengan bangga, Gereja akan menunjukkan kepada dunia, tubuh yang mati di kayu salib, adalah Tuhannya yaitu Yesus yang maha kasih dan maha adil, serta layak untuk mendapatkan penghormatan dan penyembahan melebihi apapun juga. Tidak ada yang menghina mempelai wanita, ketika dia menyatakan kemesraannya kepada mempelai pria. Mungkin lebih tepatnya, mempelai wanita tidak terlalu perduli akan sebagian orang-orang yang menghinanya. Iman Gereja tidak akan goyah mendengar orang-orang yang menghina Yesus, karena Gereja mengimani bahwa Yesus Kristus, kekasihnya adalah Tuhan. Bahkan Gereja akan menunjukkan kemesraan hubungan ini kepada seluruh dunia dengan cara mengikuti pesan mempelai pria yang berkata “19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mt 28:19-20).



8.2. Mesias yang datang ke tengah-tengah umat-Nya

8:2. Akan kubimbing engkau dan kubawa ke rumah ibuku

Mempelai pria diceritakan senantiasa membimbing mempelai wanita di bab-bab sebelumnya. Namun, di ayat ini, diceritakan bagaimana mempelai wanita membimbing mempelai pria dan membawanya ke rumah ibunya. Dan lebih lagi, kita tidak melihat adanya keberatan dari mempelai pria, bahkan dia membiarkan dirinya dibimbing dan masuk ke rumah ibu dari mempelai wanita. Dia membiarkan dirinya menjadi kecil untuk masuk ke rumah ibunya.

Dan hari itulah yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat Israel, seluruh Gereja, seluruh umat manusia, bahwa semuanya akan menyambut kedatangan Kristus ke dunia dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan. “Ke rumah ibuku” adalah rumah dari mempelai wanita yang menggambarkan kedatangan Kristus ke tengah-tengah umat Israel, ke tengah-tengah Gereja dan ke tengah-tengah umat manusia seluruhnya. Inilah gambaran Inkarnasi, Allah yang mengunjungi umat-Nya, bukan hanya dengan perintah-perintah-Nya melalui perantaraan para nabi, namun Firman itu sendiri menjadi daging (lih. Yoh 1:14) dan hadir di tengah-tengah umat-Nya.



8.2. supaya engkau mengajar aku.

Kehadiran-Nya di dunia ini, menjadikan Sang Mesias dapat mengajar sang mempelai wanita, bukan hanya dengan kata-kata, namun Yesus menunjukkannya dengan perbuatan-Nya; bukan hanya dengan perintah untuk mengasihi, namun Dia menunjukkannya dengan pengorbanan-Nya di kayu salib, untuk keselamatan mempelai wanita-Nya (lih. Ef 5:25-26). Yesus menunjukkan jalan keselamatan kepada umat manusia, karena Dia sendiri adalah Jalan, dan Kebenaran, dan Hidup (lih. Yoh 14:6).

“Supaya engkau mengajar aku” adalah suatu kerinduan manusia untuk mendengarkan Allah mengajar umat-Nya. Kita melihat Mzm 25:4-5 mengatakan “4. Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. 5. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.” Nabi Yeremia mengatakan bahwa semua orang tidak perlu mengajar satu sama lain, karena mereka sendiri akan melihat Sang Penyelamat yang datang ke dunia (lih. Yer 31:34). Penyelamat inilah yang dinubuatkan para nabi, dimana perkataaan-Nya adalah kebenaran, yang harus didengarkan oleh manusia (lih. Ul 18:15-18). Dan inilah yang dilakukan oleh Yesus, yaitu berbicara dan mengajar manusia (Mt 5:2), dan menuntun mereka kepada jalan kebenaran dan keselamatan. Origen, seorang ahli Alkitab, terutama dalam menginterpretasikan buku Kidung Agung mengatakan “Mempelai wanita – Gereja diajar oleh Firman Allah , mempelai laki-lakinya, tentang segala sesuatu yang disimpan dan tersembunyi di dalam istana kerajaan, dalam ruang Sang Raja.”<3>

Pengajaran Yesus bukan hanya dengan perkataan, namun dengan perbuatan. Dan perbuatan-Nya dan pengajaran-Nya yang terbesar adalah dengan menderita dan mati di kayu salib. Inilah sebabnya, Bunda Maria, yang mewakili Gereja, berdiri di kayu salib, mendengarkan Sang Sabda, yang bersabda bukan dengan kata-kata namun dengan bilur-bilur-Nya, luka-luka-Nya, dan dengan setiap tetesan darah-Nya. Inilah sebabnya, Bunda Maria, secara lebih dalam mengerti dan mengasihi Sang Sabda dan terus berkata “FIAT / YA” terhadap setiap kehendak Bapa yang terjadi di dalam kehidupannya, termasuk dalam setiap penderitaan yang dialaminya. Dengan FIAT-nya, Bunda Maria terus melangkah maju dalam peziarahan iman.<4>



8:2. Akan kuberi kepadamu anggur yang harum untuk diminum, air buah delimaku.

Mempelai Pria, yang telah membuktikan kasih-Nya kepada mempelai wanita dengan mati di kayu salib dan telah mengajarkan Firman yang hidup, membuat sang mempelai wanita berani untuk menawarkan dirinya, yaitu dengan menawarkan kepada mempelai pria “anggur yang harum untuk diminum“. Namun, setelah diajar oleh Sang Mempelai Pria, maka mempelai wanita menyadari bahwa apa yang dia tawarkan bukanlah keseluruhan dirinya.

Manusia hanya dapat mengerti dirinya sendiri dalam terang Kristus. Inilah sebabnya Paus Yohanes Paulus II, dalam Ensiklik “Redemptor Hominis” atau Penebus manusia, paragraf 8 mengatakan bahwa Kristus, sebagai Adam yang baru, yang memberikan wahyu tentang misteri Allah Bapa dan kasih-Nya, telah membuka manusia akan dirinya sendiri dan membawa panggilan kudusnya ke dalam terang. Di dalam penebusan Kristus, maka manusia menyadari akan bahaya dosa yang dapat menyeretnya kepada neraka, dan di satu sisi, manusia dapat menyadari bahwa dia diciptakan menurut gambaran Allah (lih. Gen 1:27), yang telah ditebus oleh Putera Allah, sehingga manusia dapat menjadi anak-anak angkat Allah. Dan pada saat manusia yang telah ditebus menyadari hakekat dirinya sendiri sebagai anak Allah, yang harus bertindak dan bersikap sebagai anak Allah, maka dia dapat menawarkan kepada Kristus, “air buah delima“, yaitu hati dari hatinya, yaitu hatinya yang terdalam.



8:3. Hubungan antara Kristus dan Gereja, yang diikat oleh kasih

8:3. Tangan kirinya ada di bawah kepalaku, tangan kanannya memeluk aku.

Setelah mengerti kedalaman hati masing-masing dan kedalam kasih dari Sang Mempelai Pria, maka yang dilakukan oleh mempelai wanita adalah bersatu dalam hubungan yang mesra dan akrab bersama dengan Mempelai Pria. Persatuan antara manusia dan Kristus hanyalah mungkin di dalam kasih, karena Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8). Di dalam persatuan kasih inilah, maka manusia dapat bersikap seperti rasul Yohanes, yang menyandarkan kepalanya kepada Yesus dalam Perjamuan Suci (lih. Yoh 13:23). Dan dalam kesempurnaan kasih inilah, Yohanes, Sang Murid yang dikasihi Yesus mengambil Bunda Maria sebagai bundanya, karena orang yang mengasihi mempunyai sesuatu yang sama, yang saling berbagi. Persatuan antara Mempelai Pria (Kristus) dan mempelai wanita (Gereja) yaitu dengan kita semua sebagai anggota Gereja diwujudkan dengan Ekaristi/ Misa Kudus. Melalui Ekaristi, kita mengalami persatuan dengan Kristus sendiri yang telah menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya demi kasih-Nya kepada kita.



Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, maka terlihat jelas, bahwa Kitab Kidung Agung, kalau dimengerti dengan benar, akan memberikan pemahaman yang begitu dalam akan hubungan antara Tuhan dengan Israel, dengan Gereja dan dengan seluruh umat manusia. Di sinilah terlihat hubungan yang dalam antara Kristus – sebagai mempelai pria – dengan Gereja – sebagai mempelai wanita (lih. Ef 5) Kemesraan yang ditunjukkan di dalam Kidung Agung, yang dibuat dalam bentu puisi, tidak boleh hanya dimengerti sebagai kemesraan antara pria dan wanita, namun secara lebih dalam harus dimengerti sebagai ungkapan hubungan kasih antara Kristus dengan Gereja dan diri kita masing-masing. Dengan pengertian ini, maka sungguh layaklah bahwa Kitab Kidung Agung menjadi bagian dari Alkitab. Mari kita bersama-sama mendalami Kitab ini bersama dengan Gereja, sehingga kita dapat memperoleh pengertian yang benar dan dapat membantu pertumbuhan kehidupan spiritual kita masing-masing.



<span>CATATAN KAKI:</span>

1. lih. Blaise Arminjon, The Cantata of Love : a verse-by-verse reading of the Song of Songs (San Francisco: Ignatius Press, 1988), p.325-333 <↩>
2. Ibid, p.327 mengutip St. Bernard, Sermons sur le Cantique des Cantiques, Oeuvres mystiques, Sermon 83 (Paris: Seuil, 1953), p.849 <↩>
3. Ibid, p.331, mengutip Origen, In Canticum Canticorum, p.13, 180B <↩>
4. Lumen Gentium, 58: Demikianlah Santa Perawan juga melangkah maju dalam peziarahan iman. Dengan setia ia mempertahankan persatuannya dengan Puteranya hingga di salib, ketika ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatnya (lih. Yoh 19:25). Disitulah ia menanggung penderitaan yang dasyat bersama dengan puteranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya ia menggabungkandiri dengan korban-Nya, yang penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya. Lihat juga Redemptoris Mater, 18 <↩>



Link: http://katolisitas.org/2009/12/14/kidung-agung-81-3-menceritakan-inkarnasi-kristus/
sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Thu Dec 08 2016 01:39 AM
Our Visitors :893542
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT