bg lower
Italia: Juara Eropa dalam rekor adopsi anak-anak cacat tanpa pamrih

Oleh: Shirley Hadisandjaja Mandelli

Milano, 17 Januari 2011.


Ada sebanyak 639 pasangan suami istri Italia yang tahun 2010 lalu mengadopsi anak-anak cacat. Italia merupakan negara yang telah melakukan adopsi dengan jumlah terbanyak di Eropa, di mana sekitar 4.130 anak-anak diadopsi hanya pada tahun 2010. Majalah mingguan budaya Katolik Tempi tanggal 14 Januari 2011 menerbitkan sebuah wawancara dengan Marco Mazzi, Ketua lembaga Famiglie per l’accoglienza, yang memberikan data bahwa pada tahun 2010 ada pertumbuhan sebesar 14% dari pasangan suami istri Italia yang mengadopsi anak-anak cacat, sebanyak 561 pasangan pada tahun 2009. Dan bukan itu saja, Italia adalah negara dengan jumlah terbanyak di Eropa dalam hal adopsi anak (4.130 di tahun 2010, 4% lebih banyak dari tahun 2009) dan menduduki tempat kedua di seluruh dunia.

Oleh karenanya, bukan saja mungkin membawa ke rumah seorang anak tak dikenal, bahkan sudah besar (rata-rata usia 6 tahun), tetapi juga menerimanya, dalam beberapa kasus, setelah mengetahui anak yang akan dibawa pulang itu cacat, bahkan terkadang juga cacat parah.

Mengapa minoritas Italia itu menjadi sebuah mayoritas dibandingkan negara-negara lain di dunia? Marco Mazzi menjelaskan : “Pertama-tama perlu mendidik keluarga-keluarga. Kami mendidik mereka melalui pelatihan-pelatihan dan melihat hasil yang baik saat para pasangan suami istri memulai dengan ide awal mereka dan mengubahnya di akhir pelatihan. Para pasangan suami istri ini menyadari bahwa tidak ada anak yang sempurna, dan bahwa tetap mungkin mencintainya meskipun dia sudah besar dan memiliki masalah dengan kesehatannya”.

Terlebih lagi, di Italia masih ada budaya memberi tanpa pamrih, baik dalam DNA warganya maupun dalam hukum yang berlaku. Mazzi menyimpulkan: “Saya percaya bahwa sebuah tradisi yang bertahan masih dapat memberikan pengaruh: di Italia tentu saja tidak terjadi apa yang sedang terjadi di Inggris, di mana diedarkan katalog yang berisikan wajah anak-anak untuk dipilih dan diadopsi. Dan hukum di sini tidak mengijinkan, seperti yang terjadi di negara-negara lain, transaksi pembelian anak yang ideal”.
Giorgio Cavalli yang mengajar di lembaga itu, mengatakan bahwa pelatihan dilakukan dengan empat kali pertemuan setiap bulan, di mana dua keluarga yang telah mengadopsi, mendampingi sepuluh keluarga. Dan dia mengakui bahwa pelatihan-pelatihan itu sangat manjur: “Dengan melihat pasangan-pasangan suami istri pengadopsi gembira, mereka mengerti komitmen dari tindakan menyambut, tetapi juga pesona sambutan mereka itu. Lebih daripada itu, mereka tahu tidak ditinggalkan sendirian bahkan saat adopsi terjadi: kami menawarkan persahabatan untuk semua yang sudah ada diantara keluarga kita”.

Cavalli menjelaskan lagi bahwa selain daripada itu, di Italia ada sebuah pengobatan juga secara hukum yang berfokus pada hak anak. Ayat 1 dari peraturan itu berbicara tentang hak anak untuk memiliki keluarga dan bukan sebaliknya. Cavalli mengatakan, “Pernyataan hukum ini terus dijalankan sampai pada tingkat budaya dari semua lembaga yang berurusan dengan adopsi. Lalu, untuk adopsi anak-anak cacat, tampak lebih lagi sebuah budaya memberi tanpa pamrih yang murni, yang pantas untuk disyukuri dan tak dapat diharapkan begitu saja dari banyak orang.

(dari sumber: Tempi, lembaga Famiglie per l’accoglienza)

Shirley Hadisandjaja Mandelli
Cesate, Milano
sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Sat Dec 03 2016 09:50 AM
Our Visitors :892282
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT