bg lower
Hari ketiga Reportase SAGKI III


Sedikit koreksi tentang reportase II yang saya buat kemarin, yakni pada bagian tambahan keterangan dari Mgr Suharyo: bahwa tiap narasi haruslah mengandung ‘revelasi’ dan ‘revolusi’. Ada satu yang belum tercatat yaitu resolusi. Jadi, tiap kisah atau narasi haruslah mengandung revelasi, resolusi dan revolusi. Revelasi itu sesuatu yang mencerahkan hati. Resolusi adalah sesuatu yang membawa ketetapan hati. Revolusi adalah hal yang membawa pada perubahan dan pembaruan diri.
Menarik untuk diketahui, bahwa pada SAGKI hari ke-2 (dan nantinya juga diadakan pada hari-hari berikutnya), Selasa, 2 November 2010, pukul 20.00, diadakan malam ekspresi budaya. Ekspresi budaya pada hari ke-2 ini menampilkan dua instrumen dan tarian akustik Sanggar Akar, asuhan IB Karyanto. Instrumen tiga biola dan dua dunga ditampilkan secara ciamik. IB Karyanto membawa 30 anak usia SMP dan SMA dari sekolah otonom yang dikelola oleh Sanggar anak-anak pinggiran ini.
Drama keuskupan Agung Medan menampilkan budaya suku Karo yang masih mempercayai dukun dan mengahalalkan segala cara dalam mencari kekayaan dan relasi dualisme. Keuskupan Sibolga membawakan lagu dan tari yang sangat energik, bahkan uskup Sibolga dan Uskup Agung Medan turut serta menari dengan rian. Adi Kurdi, yang menjadi MC ekspresi budaya ini berkomentar bahwa mungkin tarian energik ini perlu ditiru untuk evangelisasi. Sebagai penutup, sanggar Akar menampilkan tarian energik yang diiringi dengan musik perkusi yang alat-alatnya terbuat dari gelas-gelas plastik, botol, dll.

Pada hari ke-3, Rabu 3 November 2010, peserta menggulati tema: "Mengenali Wajah Yesus dalam Dialog dengan Agama dan Kepercayaan Lain"

Narasi tertunjuk (narasi publik) pada tema dialog ini ditampilkan oleh tiga narator yakni: Budayawan Mohammad Sobary, Tokoh Buddhist Sri Pannyavaro Mahathera dan tokoh aliran kepercayaan Marapu Sumba, Bapak Ngo Ngopadi. Mereka diminta narasi/cerita-nya terkait dengan pengetahuan, relasi, persaudaraan, kesan dan pesan mereka terhadap umat Katolik.
Kang Sobary, yang menyukai novel berjudul Quo Vadis dan berjudul Sidharta ini begitu kagum dengan tokoh Yesus dan Paulus. Ada kesan bahwa Kang Sobary mau terbuka untuk tahu dan memahami siapa Yesus dan Paulus itu. Selebihnya, Kang Sobary amat kagum dengan Romo Mangun karena Romo Mangun sungguh2 orang yang bicara soal kerohanian walaupun mungkin dia mengerti politik. Yang amat menarik lagi seperti dikatakan Kang Sobary, konsep agama Romo Mangun itu sungguh berciri antroposentrik. Ia kagum ketika Romo Mangun mengatakan: “Janganlah kamu berusaha membuat senang Tuhan dengan meminta maaf karena Tuhan sudah memberi maaf sebelum manusia meminta maaf. Untuk itu berusahalah membuat menusia menjadi senang, karena itu tentu membuat senang Tuhan. Jadi, senangkanlah manusia untuk membuat Tuhan senang.” Kang Sobary juga mengagumi tokoh2 yang mau keluar dari pikiran yang sudah mapan. Salah satu pesan Kang Sobary adalah bahwa menjadi orang Katolik tidak perlu terlalu terluka batinnya lantaran hidup sebagai minoritas. Umat Katolik diharapkan yakin untuk bisa mengobati lukanya sendiri. Ia juga mengatakan bahwa menjadi orang Katolik haruslah bangga.
Mahathera mengungkapkan pengalaman persaudaraannya dengan rekan-rekan Katolik. Yang mengesan adalah ketika ia bekerjasama dengan Puskat Sinduarjo dalam pembuatan film Borobudur, yang menampilkan nilai-nilai universal tanpa embel-embel pesan Kekatolikan dan Budhis. Banyak peristiwa yang membuat Mahathera berelasi enak dengan teman-teman Katolik misalnya live in para fater/seminaris di vihara Mendut, penulis Katolik yang datang, relasi dengan Romo Beny Susetyo yang aktif di Komisi HAK dan peserta retret budhis yang kebanyakan katolik. Bicara soal kesan terhadap umat Katolik, Mahathera mengatakan bahwa umat Katolik adalah umat pembelajar, santun, tepat waktu, dan menghargai budaya lokal. Ia mengungkapkan bahwa umat Budha musti belajar dari umat Katolik dalam karya sosialnya.
Bapak Ngo Ngopadi mengungkapkan pula pengalamannya dalam berelasi dengan umat Katolik. Bpk Ngo Ngopadi adalah penganut agama asli Marapu di Sumba. Dia adalah pemimpin suku dan imam agung para Marapu. Agama asli Marapu merupakan kepercayaan yang memuja nenek moyang dan leluhur. Lebih dari setengah penduduk Sumba memeluk agama ini. Mereka percaya bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan bahwa setelah akhir jaman mereka akan hidup kekal, di dunia roh, di surga Marapu, yang dikenal sebagai Prai Marapu. Altar megalik dan batu kuburan keramat yang menghias setiap jantung kempung dandusun Sumba timur adalah bukti akan adanya kepercayaan asli itu. Relasinya dengan umat Katolik sangat baik. Dengan polosnya ia berkomentar penuh percaya diri: “Saya adalah orang buta huruf satu-satunya yang berdiri di depan anda semua.” Bagi Bapak Ngo Ngopadi, ada beberapa kemiripan dalam ajaran antara Marapu dan Katolik maka tidak mengherankan bahwa mereka dapat hidup berdampingan dengan baik.
Seperti biasa, setelah narasi publik, peserta masuk ke dalam kelompoknya masing-masing untuk bernarasi. Acara proses narasi di kelompok ini berakhir pukul 13.00 lalu dilanjutkan dengan makan siang dan istirahat.
Lalu sore hari pukul 15.30 diadakan pleno atas narasi kelompok. Pleno narasi yg bertema “mengenali Yesus dalam dialog dengan agama/kepercayaan lain” ini kemudian dibundheli dengan refleksi teologis oleh Rm. Raymundus I Made Sudhiarsa SVD. Di akhir ulasan teologisnya mengenai dialog, Rm Ray mengungkapkan poin-poin untuk ditindaklanjuti, yakni: 1) Kita perlu melanjutkan segala aktifitas dalam membangun relasi umat beragama. 2) Kita perlu mengembangkan spiritualitas dialog- mau rendah hati dan punya semangat berkorban. 3) Sejalan dengan Paus Yohanes Paulus II, kita perlu menggiatkan ‘pewartaaan melalui kesaksian hidup’. 4) Kita semakin menyadari, bahwa dengan dialog, iman kita semakin diteguhkan.
Malam setelah makan, peserta kembali memasuki acara Ekspresi Budaya pada pukul 20.00. Semua peserta, tanpa kecuali para bapa uskup “digoyang” dengan tarian poco2 dan menyanyi bersama. Pengekspresi malam ini adalah peserta dari Keuskupan Bandung dan Keuskupan Agung Semarang. Keuskupan Bandung menampilkan drama “Si Kabayan dan Ikan Beragama”. Pada bagian akhir drama, peserta Keuskupan Bandung mengajak menyanyikan lagu Satu Nusa Satu Bangsa dengan iringan angklung. Sedangkan Keuskupan Agung Semarang menampilkan slaka (slawatan Katolik). Rm Nurwidi, Pr menjelaskan bahwa Slaka merupakan musik pewartaan yang dahulu digunakan oleh katekis cikal bakal Keuskupan Agung Semarang. Seluruh peserta dibuat riang gembira karena dapat mengikuti nyanyian “Mangga-mangga Ndherek Gusti” dengan iringan musik slaka ini.
Acara sidang hari ini ditutup dengan doa penutup di mana peserta diajak untuk hening karena baru saja ada kabar bahwa merapi meletus lagi…
Demikian reportase SAGKI hari ke-3

handi s, pr
"Pax vobis, Ego sum, nolite timere!"
~Paroki Tyas Dalem Kroya~
sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Tue Jan 17 2017 10:04 AM
Our Visitors :901883
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT