bg lower
Banjir ungkapkan “ketidakadilan sosial”
By Panithan Kitsakul

Panithan Kitsakul adalah seorang fotografer dan wartawan Katolik Thai. Dia juga bekas editor Phutai, majalah Komisi Keadilan dan Perdamaian dari Gereja Thailand, dan melakukan tugas media untuk sejumlah LSM (lembaga swadaya masyarakat) dan organisasi-organisasi berbasis Gereja seperti COERR dan ActionAid Thailand. Dia kini menjadi koresponden untuk ucanews.com.

Panithan mengatakan, selain kehilangan harta benda, masyarakat juga kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah bahwa pemerintah akan memberi rehabilitasi yang wajar kepada mereka.
Komenter berikut untuk ucanews.com ini diterjemahkan dari bahasa Thai.

Berbulan-bulan sejak pertengahan 2010, negara ini telah mengalami kekeringan di banyak daerah, dengan kadar air rendah di bendungan dan sungai. Akibatnya, orang tidak memiliki cukup air untuk konsumsi sehari-hari dan pertanian, yang merupakan mata pencaharian utama mereka.
Kemudian negara itu terkena banjir besar sekitar akhir Oktober. Nakhon Ratchasima di Thailand bagian timur laut merupakan salah propinsi paling parah. Daerah terakhir yang terkena bencana adalah Thailand selatan. Masyarakat setempat mengatakan bahwa ini merupakan banjir terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Banyak penduduk desa kehilangan harta benda dan hasil pertanian, serta lahan pertanian mereka hancur..

Bencana ini mengungkapkan sejumlah sayatan di masyarakat. Dalam kunjungan terakhir saya ke Provinsi Ayutthaya, saya melihat jalan banjir di satu sisi dan di sisi lain tidak ada hambatan atau bendungan yang dibangun pemerintah setempat atau orang kuat untuk mencegah aliran banjir menyapu harta benda mereka.

Ini biasa terjadi setiap kali ada banjir di mana saja di Thailand. Kadang-kadang orang di sisi “lain” dari timbunan penghalang banjir bahkan merusah penghalang itu sehingga malah menimbulkan aksi kekerasan. Banjir terakhir ini tentu saja menciptakan ketegangan dan konflik di kalangan masyarakat.

Bangkok Untouchable

Ini juga merupakan alasan mengapa sebagian besar Bangkok mengalami kekeringan. Ibukota negara hampir berada di ujung sistem limpasan air di dataran bagian tengah negeri ini, namun pemerintah berupaya keras untuk memperlambat atau memblokir aliran banjir masuk ke kota.

Ini bisa dipahami karena ibukota negara merupakan pusat negara. Namun, ini justru menyebabkan banjir yang lebih parah dan berkepanjangan di propinsi-propinsi sekitar, yang membuat penderitaan rakyat semakin menyedihkan.

Banyak warga desa di Ayutthaya mengeluh bahwa pemerintah telah mengorbankan “anak domba” demi kepentingan bisnis-bisnis raksasa di Bangkok. Kepercayaan kepada pemerintah lenyap, karena masyarakat tidak yakin bahwa pemerintah akan menyediakan rehabilitasi yang wajar bagi mereka.

Aksi Gereja: Hanya Bantuan?

Ketika bencana terjadi, Gereja adalah yang pertama sibuk memberi bantuan. Banyak organisasi religius sibuk mendistribusikan makanan, kebutuhan pokok, dan obat-obatan di daerah yang terkena bencana.

Seringkali, agama tertentu hanya membantu komubnitas jemaatnya sendiri terlebih dahulu. Ini tidak buruk, karena setiap komunitas mengharapkan adanya tanggapan dari pihak pemimpin untuk memberi prioritas kepada mereka yang membutuhkan. Namun, ini bantuan ini menimbulkan aksi bantuan yang tidak efisien dan serampangan.

Di Koh Yai, sebuah komunitas Katolik di Propinsi Ayutthaya, misalnya, saya menemukan bahwa beberapa organisasi Katolik secara independen menyalurkan bantuan, dengan banyak rumah tangga yang menerima lebih dari yang mereka butuhkan. Satu keluarga bahkan memberi saya sekotak ikan kaleng dan kotak mie instan, dengan mengatakan bahwa mereka tidak akan bisa mengkonsumsi semua itu.

Sementara itu, banyak orang di daerah-daerah yang lebih terpencil bergerak dengan perahu untuk mencari bantuan. Ini bukan karena orang Katolik tidak mempedulikan kelompok lain, tapi hanya saja belum ada koordinasi dalam aksi bantuan. Masalah ini juga terjadi ketika tsunami melanda Thailand Selatan tahun 2004.

Banyak organisasi, baik berbasis agama atau tidak, harus berkoordinasi satu sama lain dan juga dengan pemerintah setempat untuk membentuk sebuah pusat bersama guna menyalurkan bantuan kepada masyarakat terutama yang paling menderita. Di sini COERR (Catholic Office for Emergency Relief and Refugees) dario Konferensi Waligereja dapat berperan sebagai koordinator.

Rehabilitasi Jangka Panjang – Kebutuhan Nyata

Setelah banjir, korban bencana akan menghadapi kesulitan nyata. Karena produk dan lahan pertanian mereka hancur, bagaimana mereka akan melunasi hutang mereka? Bagaimana mereka akan memperbaiki atau membangun kembali rumah mereka? Bagaimana mereka bisa mengirim anak-anak mereka kembali ke sekolah?

Kebanyakan organisasi hanya memberikan bantuan selama bencana, yang hanya menunjukkan hubungan pribadi yang baik, tetapi tanpa rencana rehabilitasi dan penanganan psiko-sosial jangka panjang. Berbagai organisasi Katolik mestinya memperhatikan hal ini agar bisa melakukan sesuatu yang bermakna. Komunitas-komunitas korban bencana harus didukung dan diberdayakan sampai mereka kembali menjadi mandiri.

Organisasi-organisasi harus bekerja dengan pemerintah, misalnya, untuk menyediakan pinjaman bebas bunga guna membangun rumah, membeli peralatan rumah tangga dasar, dan rehabilitasi pertanian. Pemerintah juga harus menjamin harga minimum hasil pertanian setelah tanaman pertanian mulai berproduksi lagi. Salah satu program kita bisa tiru adalah Islamic Bank of Thailand, yang memberikan pinjaman bebas bunga bagi korban tsunami 2004.

Komunitas Katolik bisa melakukan ini karena ada banyak credit unions yang dimilikinya. Gereja dapat memberikan bantuan kredit dengan syarat yang wajar sampai masyarakt kembali mandiri, yang sebagian besar tidak mungkin bisa memperoleh kredit lewat lembaga finansial yang formal.

Bencana banjir juga merupakan kesempatan bagi pemerintah untuk mengambil tindakan serius terhadap deforestasi yang meluas di Thailand, karena ini merupakan salah satu penyebab utama terjadinya banjir. Pemerintah juga dapat mempertimbangkan pajak khusus bagi perusahaan di Bangkok yang selamatkan dari banjir, dan pajak itu disalurkan sebagai dana rehabilitasi bagi masyarakat yang terkena banjir.


sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Tue Feb 28 2017 05:50 AM
Our Visitors :910268
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT