bg lower
WikiLeaks

Ada Potensi Kekerasan Terhadap Gereja Katolik di Inggris


Duta Besar Inggris untuk Vatikan Francis Campbell mengingatkan bahwa undangan Paus Benediktus XVI kepada umat Anglikan yang menentang pentahbisan perempuan jadi imam untuk pindah ke Katolik akan mendorong terjadi diskriminasi dan potensial menciptakan kekerasan terhadap kelompok Katolik di Inggris.

Demikian kawat diplomatik rahasia AS yang dibocorkan WikiLeaks seperti dikutip The Guardian edisi online, Sabtu (11/12).

Berbicara kepada seorang diplomat Amerika Serikat (AS) setelah Uskup Agung Canterbury, Rowan Williams bertemu Paus Benediktus XVI pada November 2009, Francis Campbell mengatakan, gerakan yang mencengangkan Vatikan sudah menempatkan Williams dalam sebuah situasi yang mustahil dan hubungan Anglikan-Vatikan mengalami fase terburuknya dalam 150 tahun terakhir sebagai dampak dari putusan Paus tersebut.

Komentar Campbell yang pedas itu didokumentasikan dalam salah satu seri kawat sangat rahasia dari Kedutaan Besar AS di Vatikan yang dipublikasikan oleh WikiLeaks.

Campbell yang adalah seorang Katolik membuat pernyataan itu dalam sebuah percakapan dengan Wakil Kepala Misi Amerika untuk Tahta Suci, Julieta Valls Noyes setelah Paus memutuskan mengumumkan sebuah dispensasi khusus kepada para uskup dan imam Anglikan yang mau bergabung dengan Gereja Katolik karena menolak pentahbisan imam dan uskup perempuan di Gereja Anglikan.

Dalam sebuah jamuan makan malam yang diselenggarakan untuk menghormati Williams dan dihadiri pejabat senor Vatikan, Campbell kepada Noyes mengatakan, hubungan Anglikan-Vatikan berada dalam krisis terburuknya dalam 150 tahun terakhir sebagai akibat dari keputusan Puas tersebut, demikian bunyi kawat yang dikirim ke Washington itu.

Campbell mengatakan, “Krisis itu sangat mengkhawatirkan kelompok minoritas Katolik di Inggris yang mayoritas keturunan Irlandia. Masih ada benih anti Katolik di sejumlah daerah di Inggris dan sesewaktu bisa meledak.” Dia mengingatkan, “Hasilnya bisa dalam bentuk diskriminasi atau dalam kasus-kasus isolasi, bahkan kekerasan melawan minoritas.”

Duta Besar Inggris itu kepada Noyes mengatakan, keputusan Paus itu dengan sendirinya mengganti dialog ekumenis Katolik-Anglikan dari kesatuan yang sesungguhnya ke hanya sebuah kerjasama. Dia juga mengklaim bahwa sejumlah pejabat Vatikan yakin Paus sudah mengambil keputusan yang salah karena tidak berkonsultasi dengan sejumlah uskup agung sebelum mengumumkan keputusan tersebut.

Kawat itu melanjutkan, “Keputusan Vatikan memang pertama-tama ditujukan kepada Anglikan di AS dan Australia tetapi tidak memikirkan dampaknya bagi Inggris yang menjadi pusat Anglikan atau Uskup Agung Canterbury. Benediktus XVI, kata Campbell sudah menempatkan Uskup Agung Canterbury, Rowan Williams dalam sebuah situasi yang sulit. Kalau Williams bereaksi lebih keras, dia akan merusak kerja dialog ekumenis yang sudah dilakukan selama berpuluh-puluh tahun. Tetapi bila tidak bereaksi dengan keras dia kehilangan dukungan dari kelompok Anglikan sendiri yang marah.”

Di luar 114 uskup Gereja Inggris, tiga orang sudah diumumkan bahwa mereka akan bergabung dengan tahbisan baru (Gereja Katolik), kemudian diikuti oleh dua orang uskup lainnya. Mereka menentang petahbisan imam perempuan. Diperkirakan mereka diikuti oleh 10.000 imam dari 50 gereja dengan para pengikut mereka.

Dalam percakapan terpisah, Campbell mengingatkan profesor Teologi Miguel Diaz bahwa bila banyak umat Anglikan memutuskan pindah, Gereja Katolik di Inggris akan mengalami kesulitan finansial.


sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Thu Dec 08 2016 01:43 AM
Our Visitors :893614
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT