bg lower
Panti Jompo Panti Lansia St.Anna (Panti Werdha)
Panti Lansia St.Anna (Panti Werdha)13/07/2010Panti Lansia St.Anna ini dikelola oleh Suster-suster Cintakasih dari Maria Bunda Berbelaskasih/Sororum Caritatis a nostra Domina Matre Misericordia yang biasa disebut dengan suster SCMM. Berikut ini merupakan kisah berdirinya panti lansia St.Anna:KARYA PELAYANAN DI PANTI LANSIA ST. ANNA1. Asal Usul dan Latar Belakang:Atas permintaan dari Pastor Ermanno Santandrea SX., Kongregasi Para Suster SCMM mengelola Panti Lansia Santa Anna sejak tahun 1987, yang pada saat itu masih berbentuk rumah-rumah mini.Sejak diangkat menjadi Pastor Paroki Stella Maris Pluit di Jakarta Utara pada tahun 1980, Pastor Santandrea telah diprihatinkan oleh situasi dari sekelompok umatnya yang tidak punya rumah, keluarga maupun sanak famili, hidup dari hari ke hari tanpa jaminan dan kepastian hidup yang jelas.Keprihatinan Pastor Santandrea ternyata telah pula menjadi perhatian dan keprihatinan umat yang saleh dan yang masih peduli akan nasib sesamanya yang kurang beruntung. Bapak Anton Dago, seorang umat di Stasi Paroki Pluit, Teluk Gong, mengusulkan kepada Pastor agar umat miskin yang tunawisma, terutama yang sudah berusia lanjut, ditampung dan dipelihara oleh Paroki. Ibarat “gayung bersambut”, ide ini segera diterima dan diwujudkan dengan mendirikan pondok-pondok kecil yang disebut “Rumah Mini” beralaskan bumi di sebidang tanah seluas ± 900 m², di Gg Mazda, Jl. M no. 40, RT 07, RW 09, Kelurahan Pejagalan. Segera terkumpul 22 orang para orangtua tunawisma untuk menghuni rumah-rumah mini. Mereka dilengkapi dengan alat-alat rumah tangga yang sangat sederhana, disubsidi dengan bahan-bahan makanan setiap hari dan diberi uang saku 20 ribu rupiah sebulan, sesuai kemampuan keuangan yang diperoleh dari sumbangan umat dan donator saat itu. Kehidupan di rumah-rumah mini berlangsung sampai tahun 1991.Sejalan dengan tujuan Kongregasi SCMM, “melayani orang-orang kecil, lemah, miskin dan tertindas sesuai dengan semangat dan kharisma Pendiri”, para Suster menjalankan tugas perutusannya dengan penuh semangat. Kelompok rumah-rumah mini ini lalu diberi nama “PANTI LANSIA SANTA ANNA.” Untuk menyelenggarakan Panti, dibentuklah Badan Pengurus dengan: Pastor Santandrea sebagai Ketua, Sr. Laurensia Sidabutar SCMM sebagai Pengelola dan Pengurus Harian, Ibu Wiesnawaty sebagai Bendahara dan Bapak F.X.M. Taslim, Ibu Ratna dan Bapak Budi Haryanto sebagai Anggota Badan Pengurus.Para Pengurus Panti memelihara kelangsungan hidup para orangtua itu hanya dengan bersandarkan pada kemurahan kasih dari Penyelenggaraan Ilahi yang disertai dengan niat hati yang tulus untuk meringankan kesepian dan penderitaan sesamanya yang kurang beruntung. Kebutuhan-kebutuhan makanan dan material sebagian terbesar diperoleh dari kemurahan hati dan sumbangan para Donatur.2. Tahap-tahap Perkembangan:Pada tahun 1991, para orangtua yang hidup saling bertetangga satu sama lain di dalam rumah-rumah mini mulai disatukan. Keadaan Teluk Gong yang kerap dilanda banjir sungguh memberatkan penderitaan para orangtua itu bila tetap dipertahankan tinggal di rumah-rumah mini.Maka sebuah rumah yang lebih besar dan lebih pantas segera dibangun. Jumlah penghuni Panti berkembang dari 22 orang menjadi 30 orang. Ketika banjir masih tetap betah mendatangi, sesuai kemampuan finansial yang ada, bagian dapur lebih ditinggikan dan aula ditambahkan.2 Februari 1993, Stasi Pluit Teluk Gong resmi menjadi Paroki mandiri dengan nama Paroki St. Philippus Rasul. Namun Panti masih merupakan milik Paroki Pluit dan tetap dibawah pengelolaan Para Suster SCMM.Januari-Februari 1996, terjadilah banjir sangat besar melanda sebagian kota Jakarta. Sejak saat ini, sudah mulai dipikirkan untuk memindahkan Panti ke tempat yang lebih aman dari ancaman banjir yang terus-menerus. Namun, harapan ini tidak bisa segera terpenuhi.3. Panti Lansia Santa Anna Yang SekarangTanggal 3 Mei 1999, Panti diserahkan sepenuhnya kepada Kongregasi SCMM. Sejak saat itu, Para Suster SCMM lebih leluasa mengatur langkah dan usaha bagaimana menyelenggarakan suatu rumah yang sungguh nyaman dan terhindar dari banjir. Dengan penuh pertimbangan dan sesuai dengan kemampuan yang ada, bangunan Panti direnovasi secara besar-besaran, diperluas dan dibuat dua setengah lantai sehingga menampung lebih banyak lagi para orangtua yang membutuhkan pemeliharaan dan tempat bernaung. Rumah baru ini selesai dibangun dan kemudian diresmikan oleh Mgr. Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ, tanggal 9 Desember 2001.Dengan gedung baru, rumah Panti Lansia St. Anna dapat menampung 80 orang. Permintaan terus berdatangan, sehingga kapasitas maksimum selalu penuh, bahkan kadang lebih. Para pelamar yang menunggu dalam waiting list masih banyak. Para penghuni Panti berasal dari pelbagai latarbelakang suku, agama dan taraf kemampuan ekonomi yang berbeda-beda. Semua mendapatkan tempat, pemeliharaan dan pelayanan yang sama baiknya. Karena dihadapan Tuhan, semua insan sama berharga dan dikasihi olehNya. Dari waktu ke waktu, kenyamanan, kesejahteraan, kualitas pemeliharaan, akomodasi, konsumsi, sarana/prasarana, dan pemenuhan kebutuhan lainnya terus ditingkatkan. Para orangtua lanjut usia, semakin merasa kerasan dan dapat menikmati kebahagiaan di penghujung kehidupannya. Para Suster melayani, mendampingi dan menyiapkan mereka untuk penuh kepasrahan dan sukacita menuju kediaman yang abadi di surga.4. Prinsip Pelayanan di Panti Lansia Santa AnnaDari latarbelakang sejarahnya bisa dilihat bahwa Panti Lansia St. Anna lahir dari suatu keprihatinan akan kebutuhan dari sesama yang kurang beruntung. Panti ini didirikan untuk tujuan pelayanan sosial kepada orang-orang usia lanjut yang membutuhkan pemeliharaan dan tempat untuk bernaung.Sejalan dengan Visi Kongregasi SCMM, membangun suatu dunia dan Gereja di mana umat manusianya, terutama orang-orang yang paling membutuhkan pertolongan, mengalami cinta dan belaskasih Allah yang membebaskan dan menyelamatkan lewat hidup, kehadiran dan pelayanan para Suster SCMM, dan sejalan dengan Misi SCMM, menyelenggarakan karya-karya pelayanan cintakasih yang membebaskan dan menyelumatkan sesuai kebutuhan-kebutuhan aktual Gereja dan masyarakat setempat, para Suster SCMM menyelenggarakan Panti Lansia St. Anna dengan prinsip pelayanan “Cintakasih Tanpa Pamrih.”Kendati belum semua penghuni Panti sanggup untuk berpartisipasi di dalam pemenuhan biaya hidup sehari-hari, dan masih sebagian terbesar memberikan dana seadanya, namun kesejahteraan para orangtua tetap bisa terjamin sampai saat ini. Kemurahan hati para Donatur telah menjadi perpanjangan tangan dari Yang Ilahi bagi pemeliharaan umatNya. Pada Tuhan, tiada yang mustahil. Allah yang kita yakini adalah Allah Immanuel; Dia Tuhan yang senantiasa menyertai umatNya, terutama mereka yang paling mengharapkan cinta dan belaskasihanNya.Pada zaman ini dan di masa mendatang, kita boleh percaya bahwa akan selalu ada begitu banyak orang yang masih peduli dan mau berbelarasa suka-duka dengan sesamanya. Mereka akan menjadi utusan-utusan dari Yang Ilahi dalam memberikan bala bantuan bagi kelangsungan hidup di Panti ini.“BERSAKIT-SAKIT DAHULU, BERSENANG-SENANG KEMUDIAN”• Pada awal hadirnya kongregasi, biaya kontrak rumah di dua tempat pertama ditanggung oleh stasi dan paroki pluit. Sedang biaya hidup para suster ditanggung oleh kongregasi karena gaji dari sekolah tidak mencukupi. Barulah setelah penggajian di sekolah cukup Standard, dan pelayanan Panti Lansia semakin berkembang, para suster mulai bisa hidup dari penghasilan gaji sebagai guru dan petugas panti sehingga kongregasi tidak membantu lagi kecuali untuk biaya retret, kursus-kursus, studi akademis para Suster Junior, pengobatan, dan biaya transportasi libur.• Pola hidup sederhana yang dihayati serta sumbangan umat dan masyarakat kepada komunitas umat membantu mengatasi kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk sarana transportasi di lingkungan Teluk Gong, para suster menggunakan becak yang selalu parkir di depan biara, sedangkan untuk perjalanan yang lebih jauh para Suster naik bis angkutan kota. Namun dengan semakin berkembangnya karya di lansia, para donatur telah menyumbangkan dua, bahkan sekarang ini telah menjadi 3 mobil, sehingga para Suster yang bekerja di Panti Lansia maupun yang bekerja di sekolah dan di Komunitas lebih dimudahkan dalam hidup dan pelayanannya. Betapa indah dan nyata semangat dan kepercayaan yang diwarisi dari Bapak Pendiri akan “Penyelenggaraan Kasih Ilahi.” Kekuatan manajemen Ilahi jauh lebih ampuh dan kuat kuasa ketimbang manajemen duniawi yang paling modern sekalipun.• Sampai saat ini belum ada pengalaman pahit dan konflik-konflik dengan hierarki, pemuka umat, dan masyarakat yang tidak dapat diatasi. Relasi dan komunikasi harmonis dan lancar, kami bersyukur atas dialog dan keterbukaan lepada satu sama lain.• Perlu juga dicatat dalam buku sejarah Kongregasi SCMM bahwa kunjungan Yang Mulia Bapa Uskup Mgr Leo Sukoto SJ dan penggantinya yang selalu hadir memberi semangat baru dalam komunitas dan karya pelayanan kami di Panti Lansia setiap tahun. Syukur dan terimakasih kepada Tuhan dan para gembala umat yang memperhatikan santapan rohani dalam misa kudus komunitas dan kunjungan-kunjungan ke komunitas kami di daerah pinggiran tanggul kali.Diambil dari http://scmm-provindo.org/?p=66Foto diambil dari:http://scmm-provindo.org/?p=64Alamat yang mungkin anda butuhkan:Gang Mazda III,Jl. M No.40, RT 007/09Kel.Pejagalan, Jakarta UtaraTelp. 6616937Fax. 66696823Rek. BCA cab. Teluk MasNO. 4811139101
sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Fri Dec 19 2014 06:52 PM
Our Visitors :344378
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Powered By Inti Karya Teknologi