bg lower
Panti Asuhan Yayasan Aulia
Yayasan Aulia12/07/2010Selain yatim piatu, anak-anak jalanan juga sangat membutuhkan bantuan.Tujuan didirikanYayasan Aulia adalah melayani orang yang ditolak atau merasa ditolak oleh keluarga dan atau masyarakat di lingkungannya, dengan memupuk rasa solidaritas masyarakat terhadap mereka serta membimbing mereka ke arah kemandirian dalam rangka pembangunan masyarakat. Visinya adalah tercapainya kehidupan manusia agar mampu tumbuh dan berkembang dalam suasana penuh cinta kasih untuk sesama. Misinya adalah melayani orang yang ditolak atau merasa ditolak. Motonya adalah bahwa setiap pribadi lebih berharga dari seluruh dunia dan manusia tidak hidup dari nasi saja.Pendirinya adalah:1. Ibu Lestari projosuto.Beliau bertempat tinggal di Yogyakarta dan bertanggung jawab untuk seluruh kegiatan Yayasan Aulia di Yogyakara.2. Bpk. Eddy Hidayat.Beliau bertempat tinggal di Jakarta dan bertanggungjawab untuk seluruh kegiatan Yayasan Aulia di JakartaBerikut ini merupakan sebuah kisah yang diambil dari website aulia:Nama saya Hendri, saya sejak kecil sudah dititipkan di Aulia oleh orangtua saya. Jadi saya tidak tahu rumah saya dimana dan kadang-kadang juga orangtua saya pindah-pindah jadi saya semakin tidak tahu saya tinggal dimana, tetapi saya lahir di Jakarta dari keluarga yang ekonominya sangat kecil dan tidak punya rumah tetap. Saya punya 8 bersaudara termasuk saya, 2 perempuan dan 6 laki-laki. Kakak yang pertama dan kedua sudah menikah dan tinggal di Ambon yang pertama dan di Solo yang kedua dan yang ketiga ada di Jakarta bersama adik saya yang bungsu dan orangtua saya sedangkan adik saya yang lain berada di PA SANTA MARIA Ganjuran, Bantul. Orangtua saya tidak mampu menghidupi kakak, adik dan saya sehingga mereka menitipkan di Aulia dan di PA lainnya, agar kelak menjadi orang yang berhasil dan sukses. Ketika saya TK dan liburan saya pulang ke Jakarta tetapi ketika liburan telah usai saya tidak mau kembali ke Yogyakarta karena saya masih kangen bersama orangtua dan akhirnya saya tinggal lagi bersama orangtua saya, tetapi ternyata orangtua saya tidak mampu untuk membiayai saya untuk masuk SD kelas 1 dan hingga pada saat saya sakit radang ginjal orangtua saya semakin tidak mampu untuk menangani saya dan akhirnya saya kembali lagi ke Aulia dan langsung masuk rumah sakit untuk mondok disitu. Di Aulia saya dirawat hingga hampir 8 tahun lebih menjalani pengobatan untuk menyembuhkan sakit ginjal saya dan Aulia berusaha agar saya sembuh, dari berbagai macam cara mulai dari jamu-jamuan, obat-obatan sampai dokter spesialis penyakit dalam. Selama ini saya bersyukur sekali karena ketika saya SMP kelas III saya bisa sembuh dan ini semua berkat tangan Tuhan yang melalui Aulia untuk menyembuhkan saya, mungkin apabila saya tidak di Aulia saya tidak tahu nasib saya bagaimana, jadi saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Aulia. Sekarang saya sudah kelas III SMK dan sebentar lagi saya lulus dan saya berterima kasih atas pemberian yang diberikan selama saya di Aulia, saya belajar berkebun karena Aulia punya sawah, jadi saya bisa bekerja sambil belajar dan di Aulia juga sering diadakan penyuluhan tentang NAPZA, SEKS EDUCATION, GENDER dan cara-cara kami bersyukur antara lain:Menjaga nama baik Aulia dimana saja kita berada.Membantu kakak pengasuh tanpa disuruh.Belajar dengan rajin.Untuk bekal kami hidup di masyarakat Cita-cita saya adalah menjadi orang yang sukses yang bisa membantu orangtua saya dan menyekolahkan adik-adik. Saya berterima kasih atas semua yang diberikan kepada saya seperti pengetahuan, pengalaman hingga sopan santun yang banyak diberikan dan berguna bagi saya dikehidupan selanjutnya. Yogyakarta, 7 Januari 2009 (Hendri)Diambil dari http://www.aulia.org/viewberita.php?no=40Kisah lainnya adalahNama saya Rohati, tapi saya biasa dipanggil Ati. Sebelumnya saya tinggal di Pulo Kandang, di atas sampah yang bau tapi karena sekarang Pulo Kandang sudah digusur saya terpaksa pindah ke Cikarang. Walaupun jarak antara rumah saya ke sekolah jauh saya tetap bersekolah. Pekerjaan bapak saya cari uang di got - got kecil atau yang biasa disebut Ngayak. Penghasilan setiap hari bapak saya hanya cukup buat makan. Ibu saya tidak kerja karena sakit gegar otak. Saya punya dua orang kakak dan semuanya sudah menikah dan punya anak.Saya sendiri anak bungsu. Di rumah saya tidak boleh kerja apa - apa kecuali belajar dan sekolah. Pertama kali saya sekolah umur 9 tahun. Saya masuk kelas dua SD pada tahun 1994. Sebenarnya saya kenal Yayasan AULIA pada pertengahan tahun 1993 tapi waktu itu saya hanya ikut - ikutan belajar sama kakak - kakak AULIA. Selain saya di sekolahkan, Yayasan AULIA juga membantu bapak saya melunasi biaya rumah sakit ibu saya karena pada waktu itu ibu saya mengalami kecelakaan mobil sehingga harus dirawat di rumah sakit selama satu setengah bulan karena gegar otakSejak saya sekolah saya merasa senang sekali karena saya tidak seperti teman - teman lain yang kebanyakan turun ke jalanan untuk ngamen. Waktu itu teman - teman juga sangat iri kepada saya. Tapi sekarang teman - teman saya yang ngamen, sudah pada sekolah semua karena dibantu oleh Yayasan AULIA. Saya sangat bersyukur dan orangtua saya juga sangat bangga karena saya selalu mendapatkan prestasi, saya selalu menjadi juara kelas (itu waktu saya masih duduk di bangku SD hingga SMP). Kelas lima SD saya tidak lagi tinggal dengan orangtua saya karena lingkungan tempat tinggal saya rawan banjir sehingga kalau banjir saya tidak dapat sekolah dan lingkungan tempat tinggal saya juga sangat kumuh dan banyak premannya. Jadi, saya putuskan untuk sementara saya tinggal di Shelter House yang didirikan oleh Engkong (Pak Eddy) dengan diberi nama Pondok Anisah (PA). Saya tinggal di PA kurang lebih selama 4 tahun dan selama tinggal di PA banyak sekali pelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan. Di PA saya diajarkan bagaimana caranya memasak & mencuci. Saya juga diajarkan bagaimana berbicara yang baik, cara makan yang baik, sehingga perilaku saya sekarang tambah lebih baik. Pokoknya banyak banyak yang saya pelajari di PA. Selain itu saya juga mendapatkan pengalaman, pengetahuan dan keterampilan. Di PA saya ikut kursus menjahit, saya diajarkan dan diberi pengatahuan tentang GENDER. Saya juga ikut dan diajak seminar - seminar oleh kakak - kakak di AULIA mengenai KONVENSI HAK ANAK, KESEHATAN REPRODUKSI, dan BAHAYA NARKOBA sampai saya bisa menjadi fasilitator KHA.Berkat saya sekolah dan tinggal di PA, saya juga banyak bertemu mentri - mentri dan pernah ke istana negara menghadiri acara Hari Ibu, saya juga pernah diundang untuk menjadi fasilitator yang semua pesertanya para guru, pokoknya selama saya sekolah dan tinggal di PA pengetahuan dan pengetahuan saya banyak bertambah. Sekarang ini saya sedang mengikuti kursus komputer di Yayasan AULIA dan saya juga ingin sekali kursus B. Inggris karena nilai B. Inggris saya sangat buruk. Tapi Yayasan AULIA belum memenuhi keinginan saya karena kata kakak - kakak di AULIA dana untuk kursusnya belum ada. Tentang cita - cita saya, saya ingin menjadi pekerja sosial (Pek-Sos) seperti kakak - kakak di AULIA yang siap untuk membantu anak - anak yang ada di jalanan. Saya ingin sekali menolong teman - teman yang turun ke jalan dengan mengajarkan mereka baca, nulis dan saya juga ingin memberi pengetahuan serta penyuluhan kepada mereka tentang GENDER, KHA, KESEHATAN REPRODUKSI, dan BAHAYA NARKOBA. Itulah cita - cita saya yang selama ini saya impikan. Saya sangat berterima kasih kepada Yayasan AULIA sehingga saya dapat bersekolah dan memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang begitu banyak dan yang berguna bagi diri saya. Saya tidak tahu akan jadi apa diri saya seandainya tidak ada Yayasan AULIA, mungkin saya sudah turun ke jalanan. Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih kepada Yayasan AULIA. Semoga apa yang sudah Yayasan AULIA berikan kepada kami semua berguna bagi kami, keluarga kami, masyarakat dan negara kami. AMIN......Jakarta ,juni 2003ttd( Rohati)Catatan:Setelah lulus pada tahun 2004 hingga 2005, Ati bekerja di Yayasan AULIA, karena sakit kanker Payudara, dia terpaksa berhenti namun tetap berobat dengan obat ramuan tradisional.Dari tahun 2005 hingga sekarang ternyata Ati tetap bertahan dan bekerja di pabrik garmen.Karena pengetahuan dan bimbingan yang diperolehnya, Ati yang cukup menarik dan berhati baik tidak mau cepat - cepat berumahtangga, baru pada tahun 2007, Yayasan AULIA menerima Undangan Pernikahan dan dilakukan di Cikarang, di tempat kediamannya, rumah tembok yang luasnya 250 m2 di lokasi perumahan penduduk yang tertata dengan baikDiambil dari http://www.aulia.org/viewberita.php?no=45Selain membantu anak-anak jalanan, yayasan ini juga mempunyai Balai Pengobatan Umum Anak Sehat.Ingin tahu lebih lanjut? Coba saja datang ke websitenya yang lengkap dan menarik ini:www.aulia-kids.org/indonesiaPENGANTARMemberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak jalanan di Jakarta merupakan tema utama Yayasan Aulia. Di beberapa perkampungan kumuh di Jakarta, Yayasan Aulia memberikan bantuan bagi keluarga miskin yang serba kekurangan baik dana maupun pengetahuan. Disamping itu Yayasan Aulia memiliki tiga rumah tinggal di Yogyakarta. Disini mereka mengasuh anak-anak yang tidak bisa lagi tinggal bersama keluarganya.Pendiri Yayasan Aulia adalah Ibu Lestari dan Bapak Eddy. Berkat dukungan dari para pegawai yang berpendidikan dan rela mencurahkan perhatiannya pada anak-anak tersebut, maka mereka sanggup mengulurkan tangan bagi anak jalanan dan keluarganya.Yayasan Aulia sepenuhnya dikelola oleh orang Indonesia. Menghormati, memberikan perhatian, dan kasih sayang bagi kaum miskin Indonesia merupakan aturan mendasar dari Yayasan Aulia, disamping perkembangan dari setiap individu merupakan hal yang sangat penting pula.Yayasan ini terutama berfokus pada bayi-bayi dan anak-anak perempuan jalanan. Sudah dimulai pada usia yang sangat muda mereka dipaksa untuk mendapatkan uang dari jalanan yang seringkali harus terlibat dalam dunia pelacuran. Sebagai akibatnya, mereka hamil dan bayi-bayi mereka dilibatkan dalam dunia yang tanpa harapan tersebut.Dengan menciptakan masa depan pada kelompok masyarakat tersebut, anda bisa menghentikan keadaan yang tidak berkesudahan ini, dan dengan bimbingan dari Aulia mereka akan mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik.Nama Aulia bukanlah hanya sekedar sebuah nama. Namun nama yang berasal dari bahasa Arab kuno ini memiliki suatu arti, “Sebuah permulaan yang baru”.Pada website ini anda akan menemukan informasi lengkap mengenai proyek Yayasan Aulia, baik yang berada di Jakarta maupun di Yogyakarta.Website ini dirancang oleh sejumlah sukarelawan dari Inggris, Indonesia dan Belanda. Mereka juga memberikan dukungannya dengan berbagai cara.JakartaIbukota Indonesia terletak di pulau Jawa. Seperti halnya pada ibu kota-ibu kota lain di dunia, jumlah penduduk Jakarta sangatlah tinggi. Pada saat ini kota tersebut berpenduduk 22 juta jiwa.Perbedaan yang mencolok antara si kaya dan si miskin merupakan hal yang sangat menyedihkan.Perkampungan kumuh berada tepat di depan wilayah apartemen yang mewah. Seringkali tempat tersebut hanya terbuat dari bahan kayu-kayu papan, plastik atau dari kotak-kotak karton bekas.Yayasan Aulia sangatlah memperhatikan nasib warga perkampungan kumuh dan orang-orang yang tinggal di jalan-jalan di Jakarta. Yayasan Aulia memulai kegiatan mereka pada tahun tujuh puluhan dan sekarang mereka berfokus pada 12 perkampungan kumuh yang telah mereka tunjuk. Para perkerja social mengunjungi perkampungan ini setiap harinya. Titik berat dari program mereka adalah untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak yang tinggal di daerah tersebut. Supaya bisa mencapai tujuan ini, yayasan juga memfokuskan pada perkembangan para orang dewasanya. Menghormati dan memberikan perhatian bagi kaum miskin perupakan persoalan yang penting.Pada perkampungan kumuh, keadaan hidupnya biasanya sangatlah miskin karena kurangnya fasilitas pembuangan kotoran yang memadai, listrik, penyediaan air dan fasilitas sanitasi. Masyarakatnya tinggal di rumah-rumah sempit dan gelap, seringkali dengan beberapa keluarga di dalam satu kamar. Untuk membangun rumahnya, mereka memanfaatkan kayu, plastik juga asbes yang mereka temukan di jalanan. Seringkali apabila hujan deras tiba, daerah itu bisa dilanda banjir selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Ada kalanya daerah ini habis dilanda banjir. Banyak warga di perkampungan kumuh tidak memiliki pendapatan atau pekerjaan yang tetap. Kadang-kadang mereka mendapatkan sedikit uang dengan bekerja sebagai pemulung. Disamping itu, anak-anak mereka juga harus mendapatkan uang di jalanan dengan bekerja sebagai pengemis atau pelacur.Program dari Yayasan Aulia berfokus pada sejumlah persoalan, diantaranya: • Bantuan Medis; Yayasan telah membentuk dana untuk membiayai.......... • Pendidikan bagi anak; Anak adalah masa depan, agar bisa........ • Perkembangan orang dewasa; Banyak orang dewasa yang...... Secara umum, anda bisa mengatakan kalau Yayasan Aulia tidak hanya memberikan bantuan keuangan, namun perhatian yang lebih utama ditujukan untuk mendidik kaum miskin dan memberikan mereka kesempatan untuk berkembang dengan jalan ke dua belah pihak saling memberikan masukan. Hal ini bisa diwujudkan dalam berbagai hal, dari hal-hal kecil seperti merawat luka-luka ringan sampai cara mendapatkan kartu identitas. Menurut Yayasan Aulia melalui jalan ini mereka bisa menuntun masyarakat miskin untuk hidup secara teratur dan menetap demi masa depan mereka.Untuk melanjutkan program ini Yayasan Aulia memerlukan dana. Wilayah Jakarta mendapatkan bantuan keuangan dari berbagai sumber, diantaranya; Terre de Hommes, Kedutaan Besar Jepang dan Unicef.I. Yayasan telah membentuk dana untuk membiayai perawatan kesehatan. Setiap keluarga yang ikut berpartisipasi membayar uang sejumlah 1.500 rupiah/bulan. Dengan banyaknya jumlah peserta maka jumlah keseluruhan dana menjadi semakin besar. Apabila sewaktu-waktu suatu perawatan kesehatan diperlukan maka mereka bisa menggunakan dana tersebut untuk membiayai perawatan atau pengobatan yang diperlukan. Yayasan Aulia telah mendidik dan mendukung kegiatan itu, namun warga sendirilah yang sebetulnya membuat kegiatan ini berhasil. Melalui cara ini mereka tidak lagi bergantung pada bantuan keuangan dari luar. Pada beberapa perkampungan kumuh, kegiatan ini telah berjalan selama beberapa tahun dan telah terbukti keberhasilannya.II. Anak adalah masa depan, agar bisa membuat awal yang baik dia memerlukan paling tidak pendidikan dasar. Apabila keluarga tidak mampu membayar uang seragam, buku atau biaya-biaya lain yang terkait, dia bisa meminta bantuan pada Yayasan Aulia. Pada tahun 2001 kira-kira 1500 anak sekolah menerima bantuan keuangan dari Aulia.III. Banyak orang dewasa yang sebetulnya tidak memiliki pengetahuan mengenai masalah-masalah umum seperti kesehatan, perawatan kesehatan, memelihara anak, masalah-masalah hukum dll. Para perkerja social mencoba meningkatkan pengetahuan orang-orang tersebut dalam berbagai bidang. Di beberapa perkampungan kumuh sebuah panitia setempat telah dibentuk untuk memantau situasi di daerah tersebut. Disamping mendapatkan perkembangan pribadi, mereka juga merasa lebih terlibat dalam masyarakat Indonesia yang modern.YogyakartaDi Jawa, kalian akan menjumpai kota Yogyakarta sebagai kota pusat budaya di Indonesia, dengan penduduk kotanya yang hanya 500.000 jiwa, kota ini jauh lebih kecil dibandingkan Jakarta. Karena itu suasana kotanya sangat menyenangkan. Di sepanjang jalan masih bisa dilihat pepohonan dan bangunan-bangunan jaman kolonial.Lingkungan hidup yang lebih baik dan biaya hidup yang lebih rendah bila dibandingkan dengan Jakarta, Ibu Lestari, pendiri Yayasan Aulia, mulai menetap di Yogyakarta pada pertengahan tahun sembilan puluhan. Beliau mulai mengasuh anak-anak jalanan yang tidak bisa lagi tinggal dengan keluarganya. Hampir semua dari 58 anak yang sekarang diasuh di Yogyakarta saat ini, lahir di perkampungan kumuh di Jakarta.Yayasan Aulia berfokus terutama pada anak-anak bayi dan balita. Anak-anak yang sangat muda ini belum terpengaruh oleh lingkungan mereka dimana ibu mereka hidup, karena itu mereka memiliki kesempatan yang lebih baik untuk memiliki masa depan yang cerah. Di Yogyakarta sebuah kelompok pekerja social yang berpendidikan bekerja tujuh hari dalam satu minggu, 24 jam setiap harinya. Setiap orang memiliki tanggung-jawab untuk 3 sampai 6 anak. Mereka mengasuh anak-anak tersebut, untuk memastikan mereka makan, bersekolah, mandi, dan sebagainya, dengan baik. Memberikan perhatian dan kasih sayang juga merupakan hal yang sangat penting. Mereka mencoba untuk memasukkan semua aspek mengasuh dan mendidik anak seperti layaknya dalam sebuah keluarga Indonesia.Dana untuk melaksanakan proyek ini hampir keseluruhannya dibantu oleh “The Dutch Foundation Lestari”. Sebagai tambahannya Yayasan Aulia juga mendapatkan bantuan dari pribadi-pribadi dan berbagai organisasi. Tahun 2001 mulai menerima bantuan dari pemerintah.Anggaran belanjanya dibatasi hanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok saja.Kebutuhan pokok bagi Yayasan Aulia termasuk: • Makanan yang sehat; Tiga kali per hari mereka makan...... • Rumah; Pada tahap ini anak-anak tinggal terpisah di tiga tempat yang berbeda di daerah yang tenang di Yogyakarta utara. Salah satu dari rumah-rumah tersebut dimiliki oleh Ibu Lestari, sedangkan dua yang lainnya merupakan rumah sewa • Pendidikan; Setiap pagi para balita mengikuti.... • Perawatan kesehatan; Apabila salah satu dari.... • Pengeluaran Pegawai; Semua pegawai Yayasan Aulia...... Disamping merawat anak-anak, Yayasan Aulia juga menjalin hubungan dengan keluarga anak-anak tersebut yang masih tinggal di Jakarta. Mereka peduli terhadap latar belakang anak-anak tersebut yang biasanya sangat dramatis, dan apabila mereka sudah mencapai usia yang mencukupi, keluarga tersebut menceriterakan sejarah keluarganya pada si anak. Setiap tahun Ibu Lestari mengantar anak-anak untuk mengunjungi keluarganya di Jakarta. Orang tua dari anak yang masih kecil biasanya berkunjung ke Yogyakarta satu tahun sekali. Ada kalanya keadaan suatu keluarga sudah membaik dan mereka bisa mengasuh kembali anaknya. Namun, kebanyakan anak-anak yang tinggal di Yogyakarta masih tetap tinggal dengan Yayasan Aulia.Kadang-kadang ada orang tua si anak yang mau mengambil anaknya kembali ke Jakarta. Seorang anak bisa dijadikan sumber pendapatan penting bagi orang tua. Pada usia yang sangat muda mereka menyuruh anaknya untuk bekerja di jalanan untuk mengemis ataupun untuk melacur. Apabila keadaan semacam ini muncul, Ibu Lestari berusaha sekuat tenaga untuk menunjukkan pada orang tua tersebut bahwa masa depan si anak apabila membiarkannya tetap tinggal di Yogyakarta. Karena kharisma dan pengalamannya bertahun-tahun dalam bidangnya, beliau sering bisa mencegah orang tua untuk mengambil anaknya kembali. Sayangnya Indonesia tidak memiliki hukum perlindungan anak dan karenanya orang tua kandung merekalah yang selalu mendapatkan hak untuk mengambil anaknya kalau mereka menginginkan.Meskipun telah berusaha, para pegawai Yayasan Aulia yang berpengalaman dan berpendidikan, adakalanya tidak dapat mencegah beberapa anak kembali lagi ke lingkungan miskinnya. Ini merupakan kenyataan yang sangat menyedihkan, namun hal ini tidak mencegah para pegawai yang selalu bersedia mencurahkan perhatian mereka untuk tetap melanjutkan pekerjaannya. Untunglah ada banyak contoh anak-anak yang bahagia dan sehat yang pada saat ini memiliki kehidupan yang lebih baik atas usaha dari Yayasan Aulia. Hal yang membuat mereka terus bekerja adalah ungkapan berikut ini: “Setiap anak yang mendapatkan kesempatan yang lebih baik di dalam masyarakat ini sangatlah berharga, meskipun kadang-kadang hal ini seperti alur cerita yang tak akan pernah • Tiga kali per hari mereka makan nasi dengan sayur-mayur yang berbeda-beda. Kadang-kadang ikan, ayam, tempe atau tahu. Daging sangatlah mahal karena itu anda tidak akan menemukannya dalam menu mereka. Selain itu berbagai macam buah-buahan tersedia untuk mereka. Setiap hari bahan-bahan makanan yang segar dibeli di pasar. Anak-anak tersebut dari mulai usia 8 tahun sudah belajar memasak. Bagi anak yang paling muda tersedia seorang juru masak, hal ini untuk memastikan makanan tersebut memenuhi gizi yang seimbang sesuai anjuran ahli gizi.• Setiap pagi para balita mengikuti pelajaran yang dilaksanakan di dalam lingkungan rumah. Dengan bernyanyi dan menari mereka mulai mempelajari sejumlah aturan mendasar dan nilai-nilai kehidupan. Semua anak yang lebih besar pergi ke sekolah. Secara hukum semua anak-anak Indonesia diwajibkan untuk bersekolah meskipun pada kenyataannya ada banyak anak di lingkungan masyarakat miskin yang tidak bersekolah. Menurut Ibu Lestari, pendidikan dasar yang baik sangatlah penting. Karena itu Yayasan Aulia mencarikan sekolah yang cocok bagi anak-anak tersebut. Setelah pendidikan dasar, mereka memperhatikan kemungkinnannya untuk bisa meneruskan di sekolah kejuruan, sehingga anak tersebut nantinya bisa menjadi manusia dewasa mandiri. • Apabila salah satu dari anak-anak tersebut sakit, mereka langsung dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Apabila diperlukan akan diperiksakan pada dokter ahli. Anak yang baru saja datang dari perkampungan kumuh Jakarta sering membawa beberapa penyakit. Cacingan dan penyakit kulit merupakan penyakit yang cukup biasa dijumpai. Setelah sampai di Yogyakarta, mereka segera menjalani pemeriksaan kesehatan dan mendapatkan perawatan apabila diperlukan. Sebuah yayasan dari Jerman, yang berpusat di Osnabruck, telah mengumpulkan dana untuk biaya perawatan. Aulia juga mendapatkan bantuan dari rumah sakit terdekat di Yogyakarta, yang mana mereka hampir tidak perlu membayar untuk biaya pemeriksaan. • Semua pegawai Yayasan Aulia tergerak hatinya untuk membantu menciptakan masa depan yang cerah bagi anak-anak jalanan. Untuk jasa-jasa seperti itu, mereka menerima gaji yang kecil. Juru masak, supir dan dua pegawai administrasi menerima gaji minimum. Para pekerja social yang bekerja tanpa henti bertanggung-jawab pada anak-anak yang lebih kecil. Mereka tinggal, makan, dan tidur selalu bersama anak-anak tersebut, karena itu mereka bekerja 24 jam setiap hari.Latar BelakangDibalik senyuman wajah anak-anak di Aulia, tersimpan sebuah cerita. Latar belakangnya sering begitu menyedihkan, dramatis dan bagi pengertian orang barat hal itu tidak mudah untuk dipercaya.Menyerahkan anaknya pada orang lain merupakan hal yang sangat sulit bagi para orang tua. Tapi sering kali mereka menyadari kalau hal ini merupakan kesempatan yang terbaik untuk menyediakan masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya. Yayasan Aulia mencoba dalam segala hal untuk memelihara hubungan antara anak yang tinggal di Yogyakarta dengan keluarganya, yang tinggal di Jakarta. Setelah anak tersebut cukup usia, mereka membawanya ke Jakarta untuk mengunjungi keluarganya. Untuk memberikan gambaran pada keadaan yang sesungguhnya, kami disini menceriterakan beberapa kisah.Ibu Lestari dan Bapak EddyKeduanya merupakan penggerak dibelakang Yayasan Aulia. Bapak Eddy bertanggung-jawab pada semua hal yang berkaitan dengan organisasi di Jakarta. Di dalam pertemuan-pertemuan beliau membicarakan semua masalah dengan para pekerja sosial sebelum mereka pergi ke lapangan. Bapak Eddy mengenal keluarga anak-anak di Yogyakarta dan mengawasi apa yang terjadi pada mereka. Secara berkala beliau pergi ke perkampungan kumuh untuk mendapatkan masukan-masukan dari keadaan terbaru. Menjalankan hubungan dengan organisasi-organisasi kemanusiaan yang lainnya juga merupakan tanggung-jawabnya. Sejak pertengahan tahun tujuh puluhan, Ibu Lestari 100% terlibat dalam pemeliharaan anak-anak tuna wisma dan anak-anak jalanan di Jakarta. Bersama-sama dengan Bapak Eddy, beliau membentuk Yayasan Aulia. Sekitar tujuh tahun yang lalu Ibu Lestari pindah ke kampung halamannya, Yogyakarta. Ibu Lestari adalah seorang ibu yang sangat sederhana, jujur dan wanita yang sangat luar biasa. Beliau tidak suka memperlihatkan kesuksesannya. Hanya satu hal yang penting bagi dirinya; kesejahteraan dan masa depan anak-anak. Untuk memberikan sumbangan pada Yayasan Aulia dalam bentuk uang, silahkan kirimkan sumbangan anda pada: Yayasan Aulia, Yogyakarta Bank BCA, kcp. Urip Sumoharjo, YogyakartaNomor: 456.006.5294Stichting Lestari, Belanda ABN-AMRO Bank: 51.87.36.636 di Den HaagPostbank: 23.88.23Belanda“The Dutch Foundation Lestari” membantu pekerjaan Yayasan Aulia di Yogyakarta. 100% dari semua sumbangan yang diterima digunakan untuk proyek ini (dengan pengecualian apabila ada biaya-biaya perbankan yang diperlukan). Alamat Yayasan AULIA-Jakarta: Jl.Sunter Mas Tengah Blok G/6Jakarta UtaraTelp. 6502905Fax. 6507551
sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Thu Jul 20 2017 11:47 PM
Our Visitors :940568
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT