bg lower
Panti Asuhan Pondok Damai
Pondok Damai12/07/2010Pondok Damai merupakan panti asuhan yang berlokasi di Bekasi. Mereka mempunyai motto "Bermandiri, siap melayani orang, dan berkepribadian yang mantap."Berikut ini merupakan artikel yang diambil dari majalah Hidup.Kasih Keluarga di Pondok Damai Rabu, 30 Desember 2009 | 14.15 WIBSejak 2001 Fanie tinggal di Panti Asuhan Pondok Damai, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat. Ibunya tinggal di Malaysia. Sementara ayahnya tidak jelas keberadaannya. SEJAK umur enam tahun Fanie tinggal bersama om-nya. Karena tidak mampu memberikan kehidupan yang layak bagi Fanie, om Fanie menitipkannya ke panti asuhan ini ketika ia duduk di kelas V SD. Om dan Ibu Fanie berharap, dengan tinggal di panti asuhan yang dikelola para suster Ursulin ini, Fanie dapat mengenyam pendidikan yang layak.Tinggal di panti, meski jauh dari orangtua, tidak membuat Fanie kesepian. Teman-temannya, para suster dan pengasuh panti selalu menemaninya. ”Enaknya, tinggal di panti asuhan, saya punya banyak teman. Jadi enggak pernah merasa kesepian,” ucap Fanie sembari mengulumkan senyum.Awalnya Fanie tidak kerasan tinggal di panti asuhan. Banyak peraturan yang harus ia taati. ”Kalau di rumah, kan bisa nonton televisi kapan saja. Kalau di sini cuma Sabtu saja. Awalnya sih, memang sulit menyesuaikan diri,” beber Fanie.Anna Maria Geno Viva Beoang, juga harus menyesuaikan diri ketika pertama kali menghuni PA Pondok Damai. ”Waktu pertama kali ke sini sih, gugup. Enggak kenal sama teman-teman panti asuhan,” ucap Geno.Dalam menjalani kehidupan sehari-hari di panti asuhan ini, Fanie dan Geno, serta anak-anak lain memiliki kegiatan rutin yang sudah terjadwal. Pukul 04.30 WIB, Fanie dan semua penghuni panti lain harus segera bangun. Dengan mata yang masih mengantuk disertai kepala yang terasa pening, mereka wajib mengerjakan tugas masing-masing.Kepala Bagian Keuangan Panti Asuhan Pondok Damai Sr Leony Haryati OSU yang mewakili Sr Wilma OSU selaku penanggungjawab menjelaskan, setiap hari anak-anak panti bertugas membersihkan ruangan mereka. Seperti menyapu, mengepel lantai dan membersihkan kamar tidur. Setelah itu pukul 05.00 WIB mereka berdoa bersama di kapel, pukul 06.00 mereka sarapan, lalu berangkat ke sekolah. Sepulang sekolah, tepat pukul 12.30 mereka makan siang. Kemudian pukul 14.00 sampai 16.00 mereka tidur siang.Kemudian, pukul 16.30 sampai 20.30, mereka wajib belajar. Pukul 18.00, mereka rehat untuk makan malam. Kemudian pukul 19.00 mereka melanjutkan kegiatan belajar. ”Dengan adanya peraturan seperti itu, anak-anak akan memiliki kedisiplinan,” jelas Sr Leony.Tidak sedihHidup jauh dari orangtua tidak selamanya menyedihkan. Hal ini dirasakan oleh Fanie, Geno, dan penghuni lain, yaitu Yosephine Crissa Eklesia. ”Kalau ada pekerjaan rumah, aku bisa minta bantuan sama kakak-kakak di sini. Ya, itu enaknya tinggal di sini,” tutur Fanie, yang lahir di Sabah, Malaysia, 11 juni 1991.Ia mengaku, tinggal di panti asuhan membuatnya memiliki banyak adik dan kakak. Meski bukan saudara sekandung, namun Fanie menganggap mereka layaknya saudara kandung.Bagi Geno, hal yang menyenangkan tinggal di panti asuhan, yakni adanya rasa solidaritas antarpenghuni panti. ”Misalnya saja, kalau pas doa pagi. Kalau belum semuanya ngumpul kita enggak akan memulai doa,” ucapnya tersenyum.Sementara bagi Yosephine, yang membuat betah tinggal di panti, karena ia dapat melakukan banyak hal bersama teman-temannya. Hal ini berbeda ketika ia tinggal bersama keluarganya. ”Misalnya saja kalau di rumah aku ngurusin adik sendirian. Kalau di sini bareng-bareng. Jadi asyik,” tutur Yosephine riang.Tentu tidak menyenangkan berpisah dari keluarga. Sebagai seorang anak, mereka kerap menyimpan rasa rindu kepada keluarga. Dulu, sebagai penghuni baru panti asuhan, Geno seringkali tidak dapat menyembunyikan kerinduannya kepada kedua orangtuanya. ”Kalau kangen aku biasanya nangis. Tapi karena aku pengen jadi orang sukses, aku harus tinggal di sini untuk sekolah,” tekadnya.Guna mengobati rasa kangen mereka, pengasuh memberikan kesempatan mengunjungi orangtua. Yaitu setiap Minggu pada minggu pertama. Waktu-waktu tersebut tentu saja dipergunakan baik-baik oleh Geno dan teman lain. ”Kalau pulang aku betul-betul mengisi waktu hanya untuk keluargaku,” celoteh Geno senang.Anak-anak juga boleh menghubungi keluarga melalui telepon. ”Kalau kangen sama keluarga, kami juga diperbolehkan menelepon. Tentunya kita harus minta izin terlebih dulu,” ungkap Geno.Dalam pergaulan, anak-anak panti asuhan tidak merasa minder dengan keberadaan mereka. Pasalnya para pengasuh dan suster memberikan perhatian penuh kepada mereka. ”Saya enggak minder, malah bangga. Teman-teman di luar panti asuhan tidak mendapat perhatian penuh dari orangtua mereka. Beda dengan kami,” ucap Fanie mantap.Gadis yang kini duduk di bangku kelas II SMP Strada Kampung Sawah ini menuturkan, beberapa temannya di luar panti asuhan tidak mendapat perhatian penuh dari orangtua karena kesibukan orangtuanya. Di panti, pengasuh selalu mengingatkan mereka untuk belajar, makan, mandi atau kegiatan lainnya. Juga bila mereka menghadapi masalah, para suster dan pengasuh selalu membuka hati kepada mereka.Fanie bersyukur mendapat perhatian dari para pengasuh dan para suster. Meski Fanie dan teman lainnya tidak memiliki keluarga yang utuh, namun, mereka tetap mendapat kasih sayang dari para pengasuh dan para suster.Bekas susteranPondok Damai, dulu merupakan susteran Ursulin. Tahun 1970 susteran tersebut berubah fungsi menjadi panti asuhan. Salah seorang pengurus PA Pondok Damai, Theresia Watu mengatakan, tahun 1970 Sr Paulin Suto OSU menampung anak-anak dari keluarga tidak mampu yang tinggal di sekitar Kampung Sawah.Awalnya Pondok Damai hanya menampung lima anak. Lalu bertambah menjadi 15 anak. Sekarang ada 66 anak, terdiri 3 balita, 36 anak usia SD, 17 SMP, dan 10 SMA. Mereka datang dari latarbelakang keluarga dan kepercayaan yang berbeda-beda. Ada yang memang yatim piatu atau yatim. Tetapi pengurus menerima siapa pun. Sehingga penghuni ada yang beragama Islam, Hindu, Katolik, dan Konghucu. ”Kami membebaskan mereka untuk menjalankan ritual keagamaannya,” ujar Sr Leony.Hidup tak pernah lepas dari masalah. Sr Leony mengatakan, yang menjadi permasalahan dalam pengelolaan panti saat ini adalah dana kesehatan dan pendidikan. Meski berobat di rumah sakit yayasan Katolik, anak-anak panti tidak mendapat keringanan biaya. ”Hanya RS St Carolus yang memberikan keringanan,” keluh Sr Leony.Ke depan biarawati yang lahir di Tangerang 13 Juni 1961 ini berharap anak-anak asuhnya menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Dan, tentunya tidak melupakan keberadaan Pondok Damai. Penulis: Maretta PSDiambil dari http://majalahhidup-komunitas.blogspot.com/2010/01/kasih-keluarga-di-pondok-damai.htmlFoto diambil dari:http://cocomeou.multiply.com/photos/album/100/Panti_Asuhan_Pondok_Damai#photo=1Berikut ini merupakan alamat yang mungkin anda butuhkan:Pondok DamaiKampung Sawah RT 003, RW 03, No.1Jati Melati, Pondok Melati, Bekasi 17415Telp. 8449981Fax. 8449982Jika Anda ingin memberikan donasi, maka bisa ke:Rek. BCA cabang Cipulir4760589000A/N. Y.A.B/P.A Pondok Damai
sekretariat
Kompleks Ruko Mega GrosirCempaka Mas Blok N no 21Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat Telp: 021-42889232Fax: 021-42889233Email: karuniadanpanggilan@yahoo.co.id
login
USERNAME
bar login
PASSWORD
bar
date and time
Tue Apr 25 2017 12:05 AM
Our Visitors :922273
forumterbaru dalam forum
Cari Berita
logo
Jasa Pembuatan Website By IKT